Friday, July 20, 2018

Cerita Dewasa Tukang Perkosa Lawan Cewek Hyper

Cerita Dewasa Tukang Perkosa Lawan Cewek Hyper

Diary Seks 18 - Kata Hilda dan Emi kalau menginap di rumah Anis suka diganggu adiknya. Kata mereka yang pernah tidur di sana, adik Anis itu suka menggerayangi, bahkan memperkosanya. Wah, gawat !
Malam ini aku ingin coba coba menginap di rumah Anis. Penasaran . . . ! Seperti apa sih, tampang adiknya yang syaraf itu.
Kutunggu Anis yang lagi piket malam. Tak seberapa lama kemudian, diapun keluar menghampiriku.
”Kau belum pulang, Laras ? Sudah jam sebelas malam, lho ?” kata Anis kepadaku.
”Hari ini aku tak dapat pintu, Nis. Mau nginap di rumahmu saja ?” kataku.
”O, ya . . . yang betul ?” Sambutnya kurang percaya.
”Betul Nis, aku serius lho ?” Karena memang dari sebanyak kawan-kawan yang bekerja di Kompeksi ini hanya akulah yang belum pernah menginap di rumahnya.

Sebenarnya rumah Anis tidak jauh dari rumahku. Tetapi aku penasaran rasanya seperti apa sih, di kutak kutik oleh lelaki.
Kami sudah sampai di rumah Anis.
Di teras duduk seorang lelaki sedang asyik main guitar sendirian.
”Belum tidur kau, Rinto . . . .?” sapa Anis. ”Belum, mbak .. belum ngantuk !”
”Siapa itu, Nis ?” tanyaku.
”Adikku satu satunya, Laras. Bandelnya minta ampun !”
”Akh, anak lelaki itu bandel biasa, Nis !”
Aku pura pura tidak menaruh perhatian pada kata kata Anis mengenai tingkah laku adiknya.
Bagiku, justru menyenangkan sekali dekat dengan anak yang suka usil seperti Rinto ini.
Anis membuat kopi panas untukku, tapi tidak segera kuminum. Karena kulihat Rinto mengintipku dari balik jendela kaca, maka sengaja pahaku kubuka agak lebar lebar. Nah, rasakan nafsu ’nggak lhu anak bandel !
Tiba tiba Anis datang dengan membawa kue kue di piring.

”Ayo di minum kopinya . . obat ngantuk Laras ?” ujarnya kepadaku.
”Tapi mataku sudah tidak tahan, Nis. Percuma minum kopi. Karena aku memang tidak biasa tidur terlalu malam . . . ?” ujarku pura-pura. Padahal biasa semalaman suntuk bersetubuh di kamar.

”O ya. Kalau begitu cepatlah tidur Laras nanti kamu sakit !” seru Anis.
Saat yang kutunggu tunggu telah tiba. Kamarku sengaja tak kukunci. Sedang Anis tidur di kamarnya sendiri.
Lampu kamar sengaja tak kupadamkan agar Rinto dapat jelas memandangi pahaku yang putih dan mulus ini sengaja kubuka lebar.
Mataku pura-pura kupejamkan. Kudengar pintu kamar didorong seseorang dari luar.  Da lam hatiku . . siapa lagi kalau bukan Rinto.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Benar juga kata Hilda dan Emi. Rinto mulai menarik celana dalamku ke bawah. Kubuka mataku lebar lebar mengawasi ulahnya.
”Haaah !” aku pura pura terperanjet.
tiba tiba Rinto mengeluarkan pisau lipat dan meletakan diperutku. Akkh, matilah aku? jangan jangan ia ingin membunuhku.

”Diem . . jangan banyak bicara kalau tidak mau, pisau ini akan merobek perutmu, Laras !” ancamnya.
”Ampuuun, aku jangan dibunuh !”
Aku benar-benar ngeri ! Tidak bisa aku bayangkan tajamnya pisau cukur itu kalau benar benar merobek perutku.
”Awas, kalau teriak kubunuh kau ! Aku tidak pernah main-main !”
Rinto mulai menarik celana dalamku ke bawah sampai terlepas. Tak susangka kalau Anis mempunyai adik lelaki yang tampangnya seram seperti pembunuh berdarah dingin. Namun di balik keseramannya Rinto memang tampan sekali wajahnya.
Mata Rinto nampak bertambah liar dan jalang menatap memekku yang terpampang di depannya.
Kemudian menyuruh aku telanjang.
”Ayo buka semua !” katanya sambil menempelkan pisau cukur itu ke dadaku.
Aku bertambah ngeri oleh perlakuannya yang bahaya itu.
”Iya . . iya . . aku mau telanjang . . dan terserahlah  deh  mau  kau   apakan   tubuhku, ini asalkan jangan sampai engkau melukai

nya pakai pisau cukurmu itu Rinto . . . . . . .
aku lebih senang pisau cukur itu kau letakkan di meja, sayang !” bujukku.
”Baiklah. Tapi awas, kalau kau berani coba-coba menipuku, kubunuh kau nanti !” kembali Rinto mengancamku. Wah, gawat ! Sedikit sedikit bunuh, sedikit bunuh. Dianggapnya aku ini ayam goreng ’kali !
”Tidak, Rin, Aku tak pernah dusta pada siapapun !” kataku meyakinkan.
Perlahan lahan Rinto segera menaruh pisaunya di sebelah tempat tidurku.
”Disini saja, kalau kau nanti teriak, tinggal menusukkan pisau tajam ini ke perutmu, Laras !” gertaknya lagi.
”Ya, disitu juga tidak apa-apa ! Yang penting jangan didekatkan dengan tubuhku, aku takut !” ujarku sambil menanggalkan kutang yang kukenakan.
Sepintas kulirik benda hitam yang bergelayutan di selangkangannya. Hmmm .. tak begitu besar, tetapi kelihatan bengkak dan kaku. Pertanda bahwa Rinto sudah sangat bernafsu untuk segera membenamkan batang ke maluannya keliang memekku yang sudah menganga siap untuk ditusuk.

Dengan sangat terburu buru sekali, si brengsek itu menjebloskan batang kontolnya ke liang memekku yang sempit.
”Akkkkhhhs !”
Jleeep – Sleeeeph – Jllleeseeeeph ! ”Akhsss  .  .  Rin . . pelan pelan, sayang.
Ssssh . . eeeh . . !” rintihku.
Kemudian lelaki muda yang tampan namun brutal ini kembali mengambil pisau cukurnya, lalu ditempelkan di bagian leherku.
Wah, Breengseeeekh ! Lagi nikmat nik- matnya, konsentrasiku langsung buyar gara gara kekonyolannya.
”Jangan mengeluarkan suara, Laras. Aku sembelih lehermu ini nanti !” ujarnya.
”I . . ya sssh eeegh . . tidak . . tidak sssh .
. akh . . aku sudah pasrah kepadamu, Rin ! terserah mau kau apakan aku ini, asal jangan kau lukai kulitku . . !” rintihku setengah takut setengah nikmat.
Rinto hanya membisu, matanya nampak sangar menatapku. Gerakan pantatnya naik turun dengan cepat sekali, sehingga menimbul- kan rasa nikmat di bagian lorong memekku karena tergesek gesek topi bajanya.

Yang bikin aku kesal adalah karena dia tak pernah melepaskan pisau cukurnya yang terus menempel di leherku, bagaimana jadinya kalau nanti benar benar menggores kulit le- herku ?! Padahal tanpa diperkosapun, aku dengan senang hati akan melayaninya.
Mendadak Rinto menggeram hebat di atas tubuhku, dan gerakan pantatnyapun jadi semakin lamban.
”Akkkhhhhss . . sialan . . akkhhuu kelu arrrr, Larraassss . . oogh . . nikmat sekali !”
Crooots ! Croooots ! Crooooots !
Rinto terengah engah, dan keringatnya bercucuran karena benteng pertahananya telah bobol.

Walau aku telah bersusah payah untuk mencapai puncak kenikmatan, namun selalu gagal karena pisau itu terus menempel di lehernya dan membuatnya hilang konsentrasi.
Tak dabat tertolong lagi, batang kemaluan Rinto  semakin  mengecil  dan  tambah menge cil, sehingga tak bisa menggelitik lorong me mekku. Dan akhirnya mencabutnya.
Sialan ! Nafsu sih menggebu gebu, gayanya pakai main ancaman segala. Eh, tidak tahunya baru kegoyangkan beberapa menit saja sudah bocor ! Payah . . !

Rinto tidur membelakangi aku. Nafasnya yang tadinya tersengal-sengal sudah mulai normal kembali. Perlahan lahan kutarik tubuhnya.
”Rin .. tolong dong . . tolong aku, Rin. Aku belum keluar . . kepalaku pusing sekali sayang . .
!” rintihku memohon.
Rinto hanya membisu. Tubuhnya nampak letih karena habis memuntahkan air maninya.
Tiba-tiba rasa takutku hilang menghadapi lelaki brutal yang ternyata tidak mempunyai kemampuan tentang sex ini, dan hanya bikin gatal memekku ini saja.
Aku jadi berang sikapkupun jadi liar dan binal, melebihi Srigala yang hendak, menerkam mangsanya.
”Ayo, Rin . . main . . Letoy amat, kau ini . .
!” ajakku lagi.
Dia menatapku, tatapannya tak lagi sangar, ”Aku lemas, Laras. Aku sudah tak kuat lagi !”

”Makanya jangan cari gara-gara ! Lagak sok jadi jagoan. Eh, baru semenit saja sudah keok tak berdaya !” umpat serapahku.
Duuh, sebel benar aku. Kepalaku semakin berat saja rasanya. Aku benar benar jadi putus asa melihat batang kontol Rinto yang tak mampu tegang lagi.

”Ayo, lagi doong . . sekali saja. Asal masuk terus sudah, nanti biar aku yang goyang terus biar aku cepat keluar, sayang !” bujukku sampai sundul langit.
Namun laki laki sial itu benar benar sudah tak bergairah lagi untuk melayaniku.
”Besok saja, Laras. Kau akan aku layani sampai pagi, kalau kau mau . . !”
Rinto kembali menolak ajakanku, namun masih sempat sombong di depanku ! Hu, Hilda dan Emi boleh kau kibuli. Tetapi kalau sama aku, jangan coba-coba ! Dengan kemampuan apa sih, kau melayani aku sampai pagi?
Tapi aku tak mau kehilangan akal, dengan tak sabar lagi kuraih batang kemaluan nya yang lembek. lalu kuusap usap dengan penuh kasih sayang. Kuurut urut dari ujung sampai ke pangkalnya secara berulang-ulang, lalu kuciumi dan kukulum topi bajanya.
Hup . . nyaem . nyaem . nyaem . sssh nyaem . ufh  !  Aku  bertambah  bersemangat dan bernafsu. Batang kontol itu sedikit demi sedikit mulai bengkak keras dan ngaceng lagi seperti semula. Whoofhh . . !
”Ayo, tidak usah menunggu besok-besok, Rinto . . batang kemaluanmu kini sodah ngaceng lagi !” bujukku.

Benar benar brengsek . . walau kontol Rinto sudah ngaceng, tapi dia masih ogah- ogahan melayani ajakanku.
oOo

2
A K U segera naik ke atas tubuh Rinto yang sudah terlentang.
”Kalau begitu biar aku yang di atas, sayang . . !”
Tanpa malu malu lagi kududuki kemaluan nya yang tegak perkasa.
Akhhss . . Sleeseeep – Jleps – Sleeep !
Ough . . asyiik sekali rasanya.
Aku segera manik turunkan pantatku dengan bernafsu sekali. Kutekan pantatku kuat kuat, sehingga batang kemaluannya yang pan jang itu menyeruak lebih ke dalam lorong vaginaku yang selalu gatal.
Tak seberapa lama kemi melakukan pari setubuhan, tiba tiba Rinto menggeram hebat kedua tangannya mencengkeram kedua buah bongkahan pantatku.
”Laras, enak sekali . . Ouugh . . tobat ammpuuuun . . akkhhhhss . .akhu kelluuarr, lagi .
. akhhsss . . !”

Croot ! Croooot ! Crooooots !
Wah, celaka . .  Rinto  keluar lagi !  Hari ini aku benar-benar sial kembali lagi.  Baru kali  ini aku menghadapi laki-laki model pel  –  crot atau begitu ditempel langsung moncrot se- macam Rinto ini.
”Kau sungguh keterlaluan sekali, Rinto ! Benar-benar pemuda tak berguna . . lebih baik kontolmu dipotong buat makan kucing . . Masa baru semenit saja . . sudah bocor lagi begini !” umpatku kesal.
”Aku benar-benar tak tahan oleh permain anmu yang hebat, Laras . . memekmu . . benra- benar luar biasa nikmatnya . .!” pujinya kepadaku.
”Ah, biasa. Lelaki kalau sudah diberi kenik matan sok memuji ! ”Pokoknya, ayo kita ulangi lagi !” pintaku memaksanya.
”Aku nyerah, Laras ! Aku tak sanggup lagi, kontolku sudah tak bisa ngaceng !”
”Aduh, bagaimana ini, Rin . . kepalaku rasanya pusing minta ammpuun, kepalaku terasa berat sekali !” rintihku.
Lelaki yang lagaknya sok seram itu benar benar tak berkutik, batang kemaluannya dan semakin mengecil lagi, sedang nafsuku meng gelora hebat.

”Rin, tolongin aku sayang . . . padahal tadi sedang enak-enaknya, kau keluar duluan !”
Kemudian Rinto bangun dari tidurnya. Lalu mengenakan kain anduk, dan melangkah keluar . . . ” Tunggulah sebentar Laras . . . kuambilkan sesuatu untuku ?” katanya sambil jalan.

Dalam pikirku, apa lagi yang mau diambil nya. Sedang pisau cukurnya masih tergeletak di kasur. Wah, jangan-jangan laki-laki brengsek itu mau ngambil golok atau parang untuk mencin cangku.
Aku jadi khawatir pada Rinto yang ber wajah seram itu.
Tak seberapa lama dengan terburu-buru dia melangkah masuk menghampiriku.
Digenggamnya sebuah bbenda tumpul ter buat dari karet mirip pelutu kendali.
”Ayo . . bersiaplah . . !” katanya sambil menggenggam benda tumpul itu diacungkan didepanku.
”Siap apaan . . . lagi lagi kau menggertak ku . . . lagi lagi kau mau membunuhku . . aku seorang perempuan yang lemah Rinto . . tak perlu kau bunuh pakai senjata begitu . . cukup kau cekik atau kau tendang pakai kakimu saja

sudah aut . . . !” ujarku emosi karena nafsu birahiku semakin memuncak dan tak tersalurkan.
”Bunuh apaan sih . . . benda ini adalah kontol kontolan karat . . . . akan  kugunakan untuk menusuk lorong memekmu yang sudah gatal itu, Laras !” seru Rinto sambil mendorong tubuhku ke kasur sehingga aku jatuh telentang.
”Ya amplop, kukira kau ingin mencabut nyawaku, Rin ?”
Rupanya Rinto membawa kontol kontolan karet yang gede dan panjang. Oough ssshh.
Tentu saja aku segera mengangakan pahaku.
”Ayo, tusuk Rin, lobang memekku sudah gatal bukan kepalang !”
Rinto buru-buru menempelkan ujung ben da tumpul itu ke lobang memekku dan perlahan lahan membenamkan ke dalam.
Sreset – sreset – sleeep !”
”Akkkhhh . . . . . s s s h h h h . . . n i k m a a a a t, Rin . . . !”
Lelaki bertampang seram itu diam mem bisu, sambil matanya memandangi lobang memekku yang tengah dimasuki oleh benda cumpul dan bulat. Kontol kontolan karet itu terus

ditimbul tenggelamkan ke dalam memekku. Tak kusangka rasanya nikmat sekali.
”Terus sayang, sodok terus memekku masukkan yang dalam . . aah . . eeh . . ssshh, nikmat sekali rasanya !”
Benda itu tidak begitu keras dan tidak lembek, cukup untuk mengobrak-abrik seluruh isi memekku. Rasanya pun nikmat sekali, asyik untuk diresapi. Tidak jauh berbeda dengan keha ngatan kontol lelaki.
Rinto semakin cepat merojok-rojokkan kontol kontolan karet, rasanya pun semakin ber tambah nikmat. Tetapi kurasakan air maniku keluar.

”Akh . . ! Ufh . . ssshhh, Rin . . nikmat terus sayang . . tekan . . tekan . . congkel congkel kan ujungnya !” Bocorlah memekku yang  pertama kali. Namun semangatku masih menggebu gebu untuk mengulangi kenikmatan lagi.

Maka waktu Rinto bertanya, ”Sudah keluar Laras, sudah apa belum ?” Lalu kujawab saja dengan tidak jujur.
”Belum sayang, aku susah keluar air mani nya, yang penting tusuk tusukan yang lebih cepat dan dalam, Rinto !”

Aku terpaksa dusta, karena buat apa capai capai menginap di rumah Anis, kalau cuma keluar air maninya sekali saja !
Lelaki bertampang seram itu agaknya geram dan penasaran pada nonokku yang ku bilang belum keluar air maninya.
Ditusuk tusuknya lebih cepat dan lebih
dalam.
”Nih mampus lhu, biar mampus lhu Laras
!” Sumpah Rinto yang bermaksud menyakiti memekku.
Namun tak terpikir oleh Rinto kalau aku sesungguhnya sedang merasakan nikmat yang luar biasa. Akhhh, bocorlah memekku yang kedua kalinya.
Crrrottt – crrrottt – crrrottt.
”Aduh Riiiin, ongh enak sayang, nikmat sekali, terus sayang, terus hantamkan benda tumpul itu lebih kuat dan dalam !”
Air maniku sudah keluar banyak sekali namun semangatku masih menyala-nyala ingin mengulangi kemesraan kembali.
”Jangan tinggalkan aku sendiri Rinto, ayo kita main lagi sayang sampai pagi . . !” ajakku.
Rinto masih saja terpaku menatap keindahan memekku yang dihiasi jembut tebal.

”Ayo lagi !” ajakku lagi. ”Ah, gila kamu Laras !”
”Alla, pura-pura kamu Rinto ! kata Hilda dan Emy, kamu mainnya kuat sampai pagi !”
”Mereka bilang begitu padamu, sejak kapan mereka ketemu aku !” ujar Rinto membela diri.

”Katanya waktu dulu ketika mereka menginap di sini !” ujarku.
Rinto mendadak mukanya menjadi merah ”Bohong ! Mereka pada fitnah,awas kalau samgai mbak Anis tahu kubunuh semuanya nanti !” ancam Rinto di depanku.
Wah, kumat lagi dia rupanya lelaki seram itu juga ada yang ditakutinya.
Dalam keadaan lengah, kudorong tubuh Rinto hingga jatuh terlentang di kasur. Dan tanpa buang waktu lagi, segera kutindih kemaluannya yang mengacung ke atas.
Jleeeph ! Sressets ! Bleeseeekh !
Kuputar putar pantatku dengan lincahnya, sehingga bonggol batang kontolnya menyentuh dan menggesek gesek itilku yang sejak tadi mencuat keluar. Bahkan jembutnya yang lebat itupun ikut menggelitik bibir memekku. Ufh . . geli tapi nikmat.

”Ayo, angkat pantatmu tinggi-tinggi, sa yang . . ssssh . . eegh . .!”
Rinto menuruti perintahku, maka menye ruaklah batang kontolnya yang hangat itu lebih kedalam lagi.
Namun tak lama kemudian lorong memek ku berdenyut denyut  cepat  sekali. Dan akhir  nya menyemburlah cairan kenikmatan dari lorong vaginaku.
”Akhh . . Rin . . ough . . akhu kellluarr akh
! Creeets ! Crreeets ! Creeeets !”
Dengan berakhirnya tetesan air maniku yang keluar, aku segera pulang pagi pagi sekali tanpa sepengetahuan Anis, kakak Rinto.
Semenjak kejadian itu, tak pernah kudengar lagi khabar mengenai kebrutalan Rinto, mungkin dia benar benar telah jera.
Hidup terus menerus seperti aku ini memang tidak enak. Kesana kemari yang ada di otak hanya kontol lelaki. Walaupun sebenarnya setelah mendapatkan kenikmatan, aku selalu menyesali perbuatanku sendiri ini. Dan yang terlebih memusingkan lagi adalah memikirkan Fitri temanku. Dia cewek bandel seperti aku juga.
”Khabar gembira bagi kamu yang mau ikutan, Laras !” ujarnya konyol.

”Eh, sok serius sekali kau ini, Fitri ! Ada khabar berita apa sih !” tanyaku serius.
”Rumahku lagi kosong. Kedua orang tua ku sedang pulang kampung urusan warisan !”
”Sloompreeet ! Itu sih khabar gembira untuk kamu doangan, perek !” cemoohku.
”E . e . eeeh, tunggu dulu ! Bukan itu maksudku, nyong monyong !”
”Lalu maksudmu apa, Fitri ?”
”Kita bawa saja si Dino ke rumah, Ras !” bisiknya kepadaku.
”Tega benar kamu, Fitri. Dino kan masih sekolah. Jangan ganggu dia !”
”Ah, persetan ! Anak itu pernah mencium pipiku sekali, waktu aku buang air besar di W.C. Umum !” ujarnya serius.
”Tidak sengajabarangkali, Fitri ! Jangan mengada-ada kamu !” Sangkalku.
”Tidak sengaja apaan, Dino tidak hanya mencium pipiku, melainkan meremas indo-milkku
!”

”Hi . hi . hi salah siapa, tetek segede paya bangkok . . !” ejekku.

Fitri terus memaksaku agar rencananya terlaksana. ”Kita kerubuti berdua, Laras ! Biar kapok ?!”
Akh, itung-itung teman masuk keneraka. Malam harinya aku datang ke rumah Fitri.
Ternyata Dino berhasil dibujuknya. Namun nampaknya masih ngobrol biasa.
”Berdua dengan siapa kau, Fit ! Kok asyik betul ?” sapaku pura pura.
”Berdua Dino, adik keponakanku ?” kata Fitri mulai tengal.
Lagaknya kaya betulan punya adik kepo nakan. Setelah kupandangi dengan seksama ternyata wajah Dino sangat tampan. Keci-kecil berkumis, banyak bulunya, aku jadi bergairah untuk mengerubutinya.
Tak seberapa lama Dino ingin pulang karena memang hari sudah malam.
Tetapi mana bisa lolos dari cengkeraman kami. Fitri buru buru menyergapnya.
”Kenapa buru-buru pulang, Dino !” tanya Fitri sambil menarik tangan Dino.
”Malu, mbak . . ada mbak Laras ?” bisik Dino pada Fitri.
”Tidak apa-apa, Dino. Mbak Laras baik orangnya, dia biasa main kemari ?” bujuk Fitri,

dan akhirnya Dino kembali duduk, sedang Fitri berbisik kepadaku :
”Kita peras dulu santannya,  Laras ? Ba ru kita lepaskan buronan kami ini ?”
”Buronan, Fit ?”
Fitri mengangguk, ”Apalagi namanya ?”
Tentu saja aku mengangguk setuju apa yang dikata Fitri.
”Ya . . ya . . shiiplah ?” ujarku semangat.
oOo

3
D I N O terpaku melihat aku mengunci pintu, sedang Fitri duduk berpelukan menemani nya di sofa.
”Eeeeh . . kok di kunci !” tanya Dino kepadaku.
”Biar . . biar aman Dino !” Namun dalam hatiku biar tidak bisa keluar kau anak manis.
Tiba tiba Fitri menyerang duluan, Dino ditubruknya dengan  sangat  bernafsu  dan kasar.

Aku segera mendekati mereka. Dino dalam keadaan tak berdaya menahan serangan

Fitri yang buas dan kesetanan. Lelaki muda belia seumur tujuh belas itu bagai di rajang oleh Fitri yang pengalaman Sexnya setarap denganku.
”Sabar . . mbak . . . ah . . aduh aku . . aku kok ditelanjangi begini sih !” ujar Dino serak tapi pasrah.
Rupanya lelaki muda yang tampan itu tahu maksud keinginan Fitri.
”Tenang Dino . . tenang sajalah kamu menurut saja, ya sayang, ingin kutelanjangi tubuhmu. Pokoknya nikmattt !” desis Fitri tanpa malu malu.
”Nanti . . dilihat mbak Laras. Malu,  ah  !”  Kembali Dino bersunggut dan mencoba melawan, namun Fitri lebih cepat  menarik celana kolor Dino, tapi cukup kerepotan kelihatan nya.

Maka aku berjalan lebih dekat mereka.
Tiba-tiba Fitri yang tengah kerepotan membuka celana kolor Dino itu berteriak minta tolong kepadaku.
”Laras, ayo bantu aku ini goblok . . malah bengong kaya patung . . cepat tarik celana Dino yang tinggal sedikit lagi terlepas!” bentak Fitri kepadaku.
”O . . ya . . !” kutarik celana kolor Dino ke bawah lututnya hingga terlepas.

Fitri tidak tahu kalau aku sesungguhnya tidak sedang bengong, melainkan kepingin, karena dengan sikap Fitri yang serba main paksa begitu memandang nafsu birahiku. Sifat lamaku jadi kambuh. Lagi-lagi berebut lelaki dengan Fitri yang brengsek itu.
Aku tak mau kalah duluan untuk me ngerjai Dino yang nampak segar bugar meng gairahkan sekali itu. Hatiku masih di liputi balas dendam tempo hari pada Fitri yang main serobot lelaki teman kencanku di rumahnya.
Kudorong tubuh Fitri kesamping hingga terlepas dari pergumulan.
”Aks . . sialan, lhu Ras . . main serobot sa ja. Bagianmu belakangan monyet !’ Sumpahnya kepadaku.
Mana aku mau peduli. Kini gantian aku yang berada di atas tubuh Dino. Sedang Dino tak bisa apa-apa, hanya tatapan matanya di liputi ke heranan melihat sikapku dan sikap Fitri.
Namun tidak kurang semangatku untuk menggumuli tubuhnya.
Fitri gantian mencoba untuk menarik tubuhku. Namun aku lebih kuat mencengkram tubuh Dino.
Terjadilah tarik menarik antara aku dan
Fitri.

”Aku duluan, Laras . . . !”
”Jangan Fitri ! Aku duluan saja yang naik ke atas tubuh Dino !” Tolakku.
Dino hanya diam saja sambil memperhati kan kami yang sedang berebut tempat.
”Sebentar saja, laras, asal masuk bebe rapa putaran pasti aku mmencapai puncak kenikmatanku !” rengek Fitri merayuku.
”Pokoknya, tidak boleh, aku tidak mau be kas kamu, Fit !”
Kulihat batang kemaluan Dino semakin tegak ke atas, menantang mangsanya. Fitri menarikku lagi.
Gantian aku yang tersungkur dilantai, lalu kubalas lagi dan dibalas lagi.
Kami tak ada yang mau mengalah. Karena kami sama-sama merebutkan obat awet muda.

Kalau begini caranya akan repot, mengha biskan waktu saja, timbul dalam fikiranku untuk memecahkan masalah ini kepada Fitri yang keras kepala.
”Kalau tidak mau gantian, kita kerjain ba reng saja, Fit ! aku yang bagian bawah dan kau yang bagian atas !” ujarku.
”Baiklah !” jawab Fitri.

Kami sama-sama menyerang tubuh Dino. Fitri jongkok dengan menyodorkan memeknya ke mulut Dino. Sedang aku asyik mengulum batang kemaluan Dino yang bengkak dan keras ujung nya mirip jamur.
Kusedot sedot, kukulum kulum sambil sebelah tanganku meremas remas pantat Fitri yang montok, mengembang mengempis kurang ajar membelakangiku.
Fitri memang juga keranjingan. Belahan memeknya yang gede bulat berlendir itu ditempelkan kemulut dan hidung Dino. Sehingga pernapasan Dino tersumbat dan tersengal sengal oleh daging hangat yang berbulu lebat itu ”Ayo issssaap, anak manniiss. Sedooot . . Sedoott daging yang mencuat merah didepanmu itu, sayang . . ” rintih Fitri smbil mengusap-usap rambut Dino ”Nah begitu, itu namanya itttiill, sayangg . . ayooh isaaap terus, Dinno . . ouuggh
. . nikkkmmmaatnya !” Fitri hanyut dalam kenikmatannya.
Dalam posisi seperti itu sangat mengun tungkan bagiku.
Kusedot-sedot dengan lembut sekali, se hingga menggelepar geleparlah tubuh Dino. Kemudian kedua kakinya mengejang hebat, Dino merintih rintih menahan nikmat yang luar biasa oleh isapan mulutku yang hangat.

”Adddduuh, nikmat sekaliii !” rintih Dino sambil menjilati lobang memek Fitri.
Maka memek Fitri yang menanggung amukan kebuasan mulut dan lidah Dino sebagai pelampiasan gejolak nafsunya akibat serangan mulutku.
”Diiiinnooo. Nafsu amat sih kamu ?” seru Fitri sambil menggelinjang gelinjangkan tubuhnya kesana kemari.
”Terrrruss sayangku, isap terus memekku yang gurih ini . . ?” kembali Fitri mengomentari Dino penuh semangat.
Namun Dino gerakan mulut dan lidahnya tak selincah tadi.
Tiba tiba Dino menjerit dan kedua mata nya melotot.
”Akkkkhhhh, nnniiikmmmat sekaliii, aku tiddddaakk taahhhann, mbbaak, ouugh asyik nyyyaaa ! !” bobollah pertahanan Dino.
Air maninya yang putih dan kental melun cur cepat sekali. Tentu saja kusambut dengan ngangaan mulutku yang lebar.
Crrrrroooottt . . crrrroot . . crorroott ! Auuffh . . gurihnya . . nyam nyam nyam, lezat sekali air mani Dino ini Kutelan semuanya sampai kering. Fitri sengaja tak kusisai. Ooouch

asyiknya seketika tubuhku menjadi segar akibat meneguk air mani Dino.
Ketika cairan  jezat  itu  habis  Dino  tu buh nya menjadi lemas sedang keadaan Fitri se dang memuncak  birahinya.  Maka  ia  jadi ka lang kabut sendirian ”Ayo, Diinoo ? Kenapa berhenti meng hisapmu ?” seru Fitri agak marah, dan kebingung an.
”Aku lemasss, mbak ?” jawab Dino. ”Kenapa tiba-tiba lemas, Din  ?”  ujar  Fitri
sambil menengok ke belakang. Ia melihat mulut
ku yang asyik menikmati sisa sisa air mani Dino yang tertumpah . . . ” Pantas kau lemas, Din. Pejumu sudah keluar, ya ?!”
Senjata makan tuan, kini aku dan Fitri sama sama menahan gejolak nafsu birahi yang belum tersalurkan.
Akhirnya tanpa memikir panjang lagi ku serang tubuh Fitri yang padat dan sexi itu.
Kutarik tubuhnya ke lantai, kemudian de ngan sangat bernafsu kuremas-remas susunya yang gede bulat seperti pepaya bangkok. Oug indah sekali, padat dan berisi, aku bernafsu untuk mengisapnya.
”Akhsss, Larrraass . . ough nikmatnya.” Fitri terus mengerang menahan nikmat.
Buah dadanya semakin mengeras  karena nafsu.

Sejak tadi Dino belum sempat menyentuhnya. Kini mulai kuisap isap pentil susunya dan kuremas remas dengan gemas.
”Terrruus. Larrras . . ough nikmat sekali rasanya . .”
Rupanya Fitri tak mau tinggal diam, kedua tangannya ikut menggerayangi buah dadaku yang tak kalah montoknya dengan punyanya. Fitri juga sangat bernafsu meremas remas bulatan susuku, kemudian diselingi dengan pelintiran pelintiran petil susuku yang runcing dan berwarna merah jambu.
Asyik sekali rasanya !
”Ssssss, Fiiit, ouh nikmatnyaa ?!”
Kami berdua sama sama saling meremas payudara. Dan setelah aku merasa puas, pandanganku beralih pada perut Fitri bagian bawah. Gumpalan daging yang menggunduk di selangkangannya yang sudah basah oleh lendir itu segera kuusap-usap dengan mesra. Jembutnya yang tebal subur itu kugerai-geraikan dengan lembut.
Akhh . . ssssh . . oough . . betapa indah nya memek Fitri ini . . ! Tanpa membuang waktu lagi, segera kutundukkan kepalaku agar lebih dekat pada memeknya, lalu kutempelkan bibirku pada bibir kemaluannya yang basah.

”Laras . . ssssh . . oogh . . akhh . . !” rintih Fitri mulai merasakan kenikmatan.
Hidung dan lidahku yang panjang mulai mengendus-endus dan menjilati lorong memek nya yang  penuh  lendir.  Seketika  itu  juga  bi  bir memeknya mengembang – menguncup de ngan indahnya. Namun begitu  mulutku  juga tidak ketinggalan untuk mengecup sekerat da ging merah yang mencuat di atas lobang me meknya.
”Ough . . itttiillkuu . . itilku terrassaaa nikmat sekali kau sedot sedot begitu !”
Fitri mulai meracau tak karuan. Sedang nafsuku semakin menggelora mengerjainya, li dah kutusuk-tusukkan lebih kedalam lagi ke dalam lobang memeknya yang berbau harum dan terasa gurih.
”Ah . . sssh . . Larasssh . . ampuuuun, nikmat sekali rasanya . . kau hebat, sayang, eeegh akhhhss . . enaakkk !”
Rupanya pertahanan Fitri kuat sekali, su dah hampir setengah jam kujilati memeknya masih belum mencapai puncaknya juga !
Akhirnya untuk melampiaskan rasa pe nasaranku, kutusuk tusuk lobang memeknya de ngan jari jariku.

”Nih, rasakan anak bandel ! Jleep . sre seeet . jleeeeep . sreeets !”
”Laarraaaas . . tooobbaaaat . . aakkuuu tidak kuaattt, akhu tidak tahan dengan per mainan jari telunjukmu, sayaang. Ogh . . aku keelllluuaaarr !”
Fitri berteriak sejadi jadinya sambil men jepit jari telunjukku dengan memeknya kuat sekali. Dan seketika itu juga menyemburlah air maninya yang bening dan kental dari lobang memeknya.
”Akkhhs ?!”
Croooot ! Croooott ! croooots !
Jari telunjukku segera kucabut, kemudi  an sambil nungging kureguk cairan kental itu dengan lahapnya.
Namun ketika aku sedang asyik asyiknya menikmati air mani Fitri, tiba tiba Dino me nubrukku dari belakang, dan kontolnya yang ngaceng itu langsung di tusuk tusukan ke  lo bang memekku dari belakang dengan nafsu. Tentu saja aku senang sekali, karena dapat mengobati liang memekku yang sangat gatal.
Jleep ! Sleep ! Jleesep ! Sreeseeet ! ”Dino, kau pintar amat, sih ! Tanpa aku
suruh, kau sudah tahu kalau memek mbak La ras sedang kegatalan batang kontolmu !”

Dan tanpa banyak membuang tenaga bo bollah benteng pertahananku, karena memang sudah sejak tadi nafsuku sudah membara.
”Niikmmaaaat . . nikmaatt sekali, Dino teruuuss sayaaang . . hantaam yang kuaaaat biar air maniku keluar lebih banyak !”
Creeets ! Creeets ! Crreeeets !
Dino bagaikan mendapatkan kekuatan dari dewa. Semangatnya berkobar kobar me nyetubuhiku dari belakang. Mungkin dia juga senang dengan posisi nungging yang sedang kami lakukan saat ini, karena tak seberapa lama kemudian air mani Dinopun menyembur.
”Akh . . ssssh . . nikmat sekali, mbak. Memekmu enak sekali . . . sssh . . eghh . . wuo . . oough aku keluarrr !” Dino memujiku.
”Terus, sayangku, keluarkan yang banyak aku senang sekali basah oleh air manimu ?”
Hari sudah larut malam aku pulang sendi ri, ditengah jalan aku dihadang oleh lelaki, siapa lagi kalau bukan Boy yang bernafsu akan menga winiku. ”Yuk, Ras ! Nonton film layar tancap ?” ajak Boy.
”Yuk, Boy ?” aku tahu maksudnya paling- paling ia ingin memamerkan kecantikanku.
oOo

4
BOY yang semula kukira alim ternyata sangat buas. Dalam keremangan malam diba wah pohon kecapi, tangannya yang tak mau di am itu mulai melorotkan celana dalam, kemudian menaikkan rok bikiniku ke atas.
Lalu dengan ilmu apa lagi aku tidak per hatikan tau tau lobang memekku yang teramat sempit ini sudah kemasukan kontolnya yang hangat.
”Auih s s s Edddyy,  eeeennak  !”  bisik  ku lirih karena kanan kiriku padat  oleh  pe nonton yang lagi asyik melihat film komedi.
Namun keadaan seperti itu tak mengu rangi semangat Edy untuk memaju mundurkan pantatnya dari arah belakang.
Memang asyik sekali, menonton film, sambil menikmati kehangatan kontol Edy yang menyusup ke lobang memekku.
Namun aku penasaran ! Bagai dendam tak terbalas, kubiar Edy sendiri yang tengah kesetanan menggerayangiku dari belakang.
Walau keadaan yang bagaimanapun aku tetap berdiri tegak membelakangi Edy.

Hanya sesekali aku menjingkitkan pan tatku kalau kurasakan kemaluan Edy yang gede panjang itu merojok terlampau kedalam.
”Eddyyy, aahh sssh !” kerap kali aku merintih.
Persetubuhan seperti yang kami lakukan ini memang asyik kalau dilakukan sambil me nonton layar tancap, orang lain tak menyangka kalau kami sedang asyik bersetubuh. Seolah olah seperti orang yang sedang berpacaran saja.
Karena disamping nikmat yang tiada tara, kami bisa sama sama menikmati film komedi.
Yang sangat lucu, tanpa banyak menge luarkan tenaga aku bisa mudah mencapai pun cak kenikmatan.
Air maniku keluar banyak sekali, tentu saja rasa kenikmatannya berkepanjangan.
Benar benar aku merasakan nikmatnya sorga dunia yang tiada tara.
Edy memang sangat luar biasa orangnya ia sangat jempolan untuk mentrapkan keadaan dan posisi.
Dalam situasi yang menyulitkan begini masih bisa kami lalui dengan kenikmatan.
Tidaklah heran kalau teman temannya pa da menjuluki SI SETAN MEMEK LAYAR TANCAP !

Jam empat pagi tontonan sudah bubar. Sejak tadi aku geram pada Edy ! Awas nanti kalau melewati rumah kosong di dekat sawah itu
! Ancamku . . . . Lumayan, disamping tempatnya sepi, sana sini ditumbuhi pepohonan yang rimbun.
Aku sengaja memperlambat jalan, kupe luk tubuh Edy mesra sekali.
Setelah kurasakan sangat sepi kutarik tubuh Edy memasuki rumah kosong yang tidak dikunci.
Dilantai telah tersedia tikar, mungkin be kas orang lain bersetubuh !
Betul juga, di sana sini berceceran air mani yang masih hangat, seperti baru saja ter jadi pertempuran sengit di sini.
Rupanya Edy si buaya darat itu sudah tahu maksudku. Dia buru buru menanggalkan pakaiannya hingga bugil. Demikian pula dengan aku, tak sehelai benangpun menempel di tubuhku.
”Akh . . gila !” Aku benar-benar terperanjat melihat benda antik yang bergelayutan di antara kedua pangkal pahanya.
Ya, ampuuuun ! Pantas gedenya seperti gada Menak Jingga ! Dan tentu saja aku segera menyambutnya dengan gembira.

Ufhh . . ssssh . . nyaem – nyaem – nya- emm . . duuh nikmatnya rasa daging hangat milik Edy ini. Batang kemaluannya yang gede panjang itu kukulum dengan mesra.
Memang paling lezat sarapan pagi dengan menguyah-nguyah daging alot.
Benda hitam itu kukeluar masukkan ke dalam mulutku.
Kusedot-sedot ujungnya yang berbentuk topi baja . . . Mekar dan mengkilap sangat merangsang sekali.
Dari ujung lobangnya mengalir cairan lendir yang bening. Rasanya gurih, nikmat sekali untuk diresapi.
Benda lunak dan keras itu terus kusedot- sedot, dan akhirnya keluarlah cairan yang lebih kental banyak sekali, mirip santan, rasanya sangat gurih dan lezat !
Aku memang sangat doyan cairan seperti
ini.
”Aufh sssssh, Larrrrras, nikmat sekali,
sayang !!” Edy terpekik menahan nikmat, air maninya menyembur banyak sekali.
Aku jadi ketagihan. Kembali kuurut urut batang kontolnya yang mulai tegang lagi. Se karang mampus lhu . . kubikin habis pejuhmu hari ini ! Demikian ancamku dalam hati.

Setelah batang kontol Edy benar benar telah ngaceng , segera kukeluar masukkan ke dalam mulutku dengan penuh nafsu.
”Ufh . . gurihnya kontolmu, sayang . . egh
. . ufh . . sssh . . !” aku benar benar bernafsu melayani Edy dengan mulutku. Karena memang sudah lama aku tak mengulum kontol.
Di rumah kosong itu Edy aku bikin tidak berdaya, karena aku melayaninya dengan ber sungguh sungguh. Dalam hatiku, rasanya pemba lasanku yang lebih kejam ini !
Begitu, terus berulang ulang, sampai se tetes lendirpun tak  mampu keluar  dari ujung  topi bajanya.
”Toobuaaaat, Laras ! Sssu – sudddaahh jangan diisap lagi kontolku . . akhhh !”
”Kalau begitu kau tak pantas jadi sua miku, Edy. Kau tak bisa memenuhi syarat !”
”Ya – ya, tidak apa apa. Yang penting lepaskan batang konnolku, Laras. Aku benar- benar sudah tidak kuat !” rintihnya
Akupun segera melepaskan kulumanku Ploooopohhhhh !

Posted by : Natassya Wang

Thursday, July 19, 2018

Cerita Dewasa Suster Dan Pasien

Cerita Dewasa Suster Dan Pasien

Diary Seks 18 - Saya seorang pemain bola di kesebelasan tempat tinggal saya. Karena terjadi tabrakan dengan teman, kaki saya mengalami patah tulang ringan. Dan saya harus dirawat di rumah sakit. Saya berada di kamar kelas VIP. Jadi saya bebas untuk melakukan apa saja. Saya sebetulnya sudah sehat, tetapi masih belum boleh meninggalkan rumah sakit. Makanya saya bosan tinggal disitu.
Pada pagi hari ketika saya sedang tidur, saya terkejut pada saat dibangunkan oleh seorang suster. Gila..! Suster yang satu ini cantik sekali.
“Mas Sony udah bangun ya..? Gimana tadi malam, mimpi indah..?” katanya.
“Ya Sus, indah sekali. Saya lagi bercinta dengan cewek cantik berbaju putih Sus..? Dan mukanya mirip Suster lho..!” kata saya menggodanya.
“Ah.. Mas Sony ini bisa aja.., habis ini mas mandi ya..?” katanya lembut.
Lalu dia membawa handuk kecil, sabun, wash lap, dan ember kecil. Suster itu mulai menyingkap selimut yang saya pakai, serta melipatnya di dekat kaki saya. Terbuka sudah seluruh tubuh telanjang saya. Saya dengan sengaja tadi melepaskan semua baju dan celana saya. Ketika dia melihat daerah di sekitar kemalua saya, terkejut dia, karena ukuran kelamin saya serta kepalanya yang di luar normal. Sangat besar, mirip helm tentara NAZI dulu.
Lalu dia mengambil wash lap dan sabun.
“Sus… jangan pake wash lap.., geli… saya nggak biasa. Pakai tangan suster yang indah itu saja…” kata saya memancingnya.
Suster itu mulai dengan tanganku. Dibasuh dan disabuninya seluruh tangan saya. Usapannya lembut sekali. Sambil dimandikan, saya pandangi wajahnya, dadanya, cukup besar juga kalau saya lihat. Orangnya putih mulus, tangannya lembut. Selesai dengan yang kiri, sekarang ganti tangan kanan. Dan seterusnya ke leher dan dada. Terus diusapnya tubuh saya, sapuan telapak tangannya lembut sekali saya rasakan, dan tidak terasa saya memejamkan mata untuk lebih menikmati sentuhannya.
Sampai juga akhirnya pada batang kejantanan saya, dipegangnya dengan lembut ditambah sabun. Digosok batangnya, biji kembarnya, kembali ke batangnya. Saya merasa tidak kuat untuk menahan supaya tetap lemas. Akhirnya batang kemaluan saya berdiri juga. Pertama setengah tiang, lama-lama akhirnya penuh juga dia berdiri keras.
Dia bersihkan juga sekitar kepala meriam saya sambil berkata lirih, “Ini kepalanya besar sekali mas… baru kali ini saya lihat kaya gini besarnya. Dikasih makan apa sih koq bisa gini mas..?” katanya manja.
“Sus… enak dimandiin gini…” kata saya memancing.
Dia diam saja, tetapi yang jelas dia mulai mengocok dan memainkan batang kemaluan saya. Sepertinya dia suka dengan ukurannya yang menakjubkan.
“Enak Mas Sony… kalo diginikan..?” tanyanya dengan lirikan nakal.
“Ssshh… iya terusin ahhh… sus… sampai keluar…” kata saya sambil menahan rasa nikmat yang tidak terkira.
Tangan kirinya mengambil air dan membilas batang kejantanan saya yang sudah menegang itu, kemudian disekanya dengan tangan kanannya. Kenapa kok diseka pikir saya. Tetapi saya diam saja, mengikuti apa yang mau dia lakukan, pokoknya jangan berhenti sampai disini saja. Bisa-bisa saya pusing nantinya menahan nafsu yang tidak tersalurkan.
Lalu dia dekatkan kepalanya, dan dijulurkan lidahnya. Kepala batang kejantanan saya dijilatinya perlahan. Lidahnya mengitari kepala senjata meriam saya. Semilyard dollar… rasanya… wow… enak sekali. Lalu dikulumnya batang kejantanan saya. Saya melihat mulutnya sampai penuh rasanya, tetapi belum seluruhnya tenggelam di dalam mulutnya yang mungil. Bibirnya yang tipis terayun keluar masuk saat menghisap maju mundur.
Lama juga saya dikulumi suster jaga ini, sampai akhirnya saya sudah tidak tahan lagi, dan, “Crooott… crooott…” nikmat sekali.
Sperma saya tumpah di dalam rongga mulutnya dan ditelannya habis. Sisa pada ujung batang kemaluan pun dijilat serta dihisapnya habis.
“Sudah ya Mas, sekarang dilanjutkan mandinya ya..?” kata suster itu, dan dia melanjutkan memandikan kaki kiri saya setelah sebelumnya mencuci bersih batang kejantanan saya.
Badan saya dibalikkannya dan dimandikan pula sisi belakang badan terutama punggung saya.
Selesai acara mandi.
“Nanti malam saya ke sini lagi, boleh khan Mas..?” katanya sambil membereskan barang-barangnya.
Saya tidak bisa menjawab dan hanya tersenyum kepadanya. Saya serasa melayang dan tidak percaya hal ini bisa terjadi. Terakhir sebelum keluar kamar dia sempat mencium bibir saya. Hangat sekali.
“Nanti malam saya kasih yang lebih hebat.” begitu katanya seraya meninggalkan kamar saya.
Saya pun berusaha untuk tidur. Nikmat sekali apa yang telah saya alami sore ini. Sambil memikirkan apa yang akan saya dapatkan nanti malam, saya pun tertidur lelap sekali. Tiba-tiba saya dibangunkan oleh suster yang tadi lagi. Tetapi saya belum sempat menanyakan namanya. Baru setelah dia mau keluar kamar selesai meletakkan makanan dan membangunkan saya, dia memberitahukan namanya, rupanya Vina. Cara dia membangunkan saya cukup aneh. Rasanya suster dimanapun tidak akan melakukan dengan cara ini. Dia sempat meremas-remas batang kemaluan saya sambil digosoknya dengan lembut, dan hal itu membuat saya terbangun dari tidur. Langsung saya selesaikan makan saya dengan susah payah. Akhirnya selesai juga. Lalu saya tekan bel.
Tidak lama kemudian datang suster yang lain, saya meminta dia untuk menyalakan TV di atas dan mengangkat makanan saya. Saya nonton acara-acara TV yang membosankan dan juga semua berita yang ditayangkan tanpa konsentrasi sedikit pun.
Sekitar jam 9 malam, suster Vita datang untuk mengobati luka saya, dan dia harus membuka selimut saya lagi. Pada saat dia melihat alat kelamin saya, dia takjub.
“Ngga salah apa yang diomongkan temen-temen di ruang jaga..!” demikian komentarnya.
“Kenapa emangnya Sus..?” tanya saya keheranan.
“Oo… itu tadi teman-teman bilang kalau punya mas besar sekali kepalanya.” jawabnya.
Setelah selesai dengan mengobati luka saya, dan dia akan meninggalkan ruangan. Tetapi dia sempat membetulkan selimut saya, dia sempatkan mengelus kepala batang kejantanan saya.
“Hmmm… gimana ya rasanya..?” manjanya.
Dan saya hanya bisa tersenyum saja. Wah suster di sini gila semua ya pikirku. Jam 22:00, kira-kira saya baru mulai tertidur. Saya mimpi indah sekali di dalam tidur saya karena sebelum tidur tadi otak saya sempat berpikir hal-hal yang jorok. Saya merasakan hangat sekali pada bagian selangkangan, tepatnya pada bagian batang kemaluan saya, sampai saya jadi terbangun. Ternyata suster Vina sedang menghisap senjata saya. Dengan bermalas-malasan, saya menikmati terus hisapannya. Saya mulai ikut aktif dengan meraba dadanya. Suatu lokasi yang saya anggap paling dekat dengan jangkauan tangan saya.
Saya buka kancing atasnya, lalu meraba dadanya di balik BH hitamnya. Terus saya mendapati segumpal daging hangat yang kenyal. Saya menelusuri sambil meremas-remas kecil. Sampai juga pada putingnya. Saya memilin putingnya dengan lembut dan Suster Vina pun mendesah.
Entah berapa lama saya dihisap dan saya merabai Suster Vina, sampai dia akhirnya bilang, “Mas… boleh ya..?” katanya memelas.
“Mangga Sus, dilanjut..?” tanya saya bingung.
Dan tanpa menjawab dia pun meloloskan CD-nya, dilemparkan di sisi ranjang, lalu dia naik ke ranjang dan mulai mengangkangkan kakinya di atas batang kejantanan saya.
Dan, “Bless…” dia memasukkan kemaluan saya pada lubangnya yang hangat dan sudah basah sekali.
“Aduh.. Mas.., kontolnya hangat dan enak lho… ohhhh…”
Lalu dia pun mulai menggoyang perlahan. Pertama dengan gerakan naik turun, lalu disusul dengan gerakan memutar. Wah.., suster ini rupanya sudah profesional sekali. Lubang senggamanya saya rasakan masih sangat sempit, makanya dia juga hanya berani gerak perlahan. Mungkin juga karena saya masih sakit. Lama sekali permainan itu dan memang dia tidak mengganti posisi, karena posisi yang memungkinkan hanya satu posisi. Saya tidur di bawah dan dia di atas tubuh saya.
Sampai saat itu belum ada tanda-tanda saya akan keluar, tetapi kalau tidak salah, dia sempat mengejang sekali. Tadi di pertengahan dan lemas sebentar, lalu mulai menggoyang lagi. Sampai tiba-tiba pintu kamarku dibuka dari luar, dan seorang suster masuk dengan tiba-tiba. Kaget sekali kami berdua, karena tidak ada alasan lain, jelas sekali kami sedang main. Apalagi posisinya baju dinas Suster Vina terbuka sampai perutnya, dan BH-nya juga sudah terlepas dan tergeletak di lantai.
Ternyata yang masuk suster Vita, dia langsung menghampiri dan bilang, “Teruskan saja Vin… gue cuman mau ikutan… memek gue udah gatel nich..!” katanya dengan santai.
Suster Vita pun mengelus dada saya yang agak bidang, dia ciumi seluruh wajah saya dengan lembut. Saya membalasnya dengan meremas dadanya. Dia diam saja, lalu saya buka kancingnya, terus langsung saya loloskan pakaian dinasnya. Saya buka sekalian BH-nya yang berenda tipis dan merangsang. Dadanya terlihat masih sangat kencang. Tinggal CD minim yang digunakannya yang belum saya lepaskan.
Suster Vina masih saja dengan aksinya naik turun dan kadang berputar. Saya lihat dadanya yang terguncang akibat gerakannya yang mulai liar. Lidah Suster Vita mulai memasuki rongga mulut saya dan langsung saya hisap ujung lidahnya yang menjulur itu. Tangan kiri saya mulai meraba di sekitar selangkangan Suster Vita dari luar. Basah sudah CD-nya, dengan perlahan saya tarik ke samping dan saya mendapatkan permukaan bulu halus menyelimuti liang kewanitaannya. Saya elus perlahan, baru kemudian sedikit menekan. Ketemu sudah klit-nya. Agak ke belakang saya rasakan semakin menghangat. Tersentuh olehku kemudian liang nikmat tersebut. Saya raba sampai tiga kali sebelum akhirnya memasukkan jari saya ke dalamnya. Saya mencoba memasukkan sedalam mungkin jari telunjuk saya. Kemudian disusul oleh jari tengah. Saya putar jari-jari saya di dalamnya. Baru kemudian saya kocok keluar masuk sambil memainkan jempol saya di klit-nya.
Dia mendesah ringan, sementara Suster Vina rebahan karena lelah di dadaku dengan pinggulnya tiada hentinya menggoyang kanan dan kiri. Suster Vita menyibak rambut panjang Suster Vina dan mulai menciumi punggung terbuka itu. Suster Vina semakin mengerang, mengerang, dan mengerang, sampai pada erangan panjang yang menandakan dia akan orgasme, dan semakin keras goyangan pinggulnya. Sementara saya sendiri mencoba mengimbangi dengan gerakan yang lebih keras dari sebelumnya, karena dari tadi saya tidak dapat terlalu bergoyang, takut luka saya menjadi sakit.
Suster Vina mengerang panjang sekali seperti orang sedang kesakitan, tetapi juga mirip orang kepedasan. Mendesis di antara erangannya. Dia sudah sampai rupanya, dan dia tahan dulu sementara, baru dicabutnya perlahan. Sekarang giliran Suster Vita, dilapnya dulu batang kemaluan saya yang basah oleh cairan kenikmatan, dikeringkan, baru dia mulai menaiki tubuh saya.

Ketika Suster Vita telah menempati posisinya, saya melihat Suster Vina mengelap liang kemaluannya dengan tissue yang diambilnya dari meja kecil di sampingku. Suster Vita seakan menunggang kuda, dia menggoyang maju mundur, perlahan tapi penuh kepastian. Makin lama makin cepat iramanya. Sementara kedua tangan saya asyik meremas-remas dadanya yang mengembung indah. Kenyal sekali rasanya, cukup besar ukurannya dan lebih besar dari miliknya Suster Vina. Yang ini tidak kurang dari 36C.


Sesekali saya mainkan putingnya yang mulai mengeras. Dia mendesis, hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Desisan itu sungguh manja kurasakan, sementara Suster Vina telah selesai dengan membersihkan liang hangatnya. Kemudian dia mulai lagi mengelus-elus badan telanjang Suster Vita dan juga memainkan rambutku, mengusapnya. Kemudian karena sudah cukup pemanasannya, dia mulai menaiki ranjang lagi. Dikangkangkannya kakinya yang jenjang di atas kepala saya. Setengah berjongkok gayanya saat itu dengan menghadap tembok di atas kepala saya. Kedua tangannya berpegangan pada bagian kepala ranjang.
Mulai disorongkannya liang kenikmatannya yang telah kering ke mulut saya. Dengan cepat saya julurkan lidah, lalu saya colek sekali dan menarik nafas, “Hhhmmm…” bau khas kewanitaannya. Saya jilat liangnya dengan lidah saya yang memang terkenal panjang. Saya mainkan lidah saya, mereka berdua mengerang bersamaan, kadang bersahutan. Saya lihat lubang pantatnya yang merah agak terbuka, lalu saya masukkan jari jempol ke dalam lubang pantatnya.
Suster Vina merintih kecil, “Auuww… mas nakal deh..!”
Lalu saya jilati lubang pantatnya yang sudah mulai basah itu, tapi kemudian, “Tuuuttt..!”
Saya kaget, “Suster kentut ya..?” tanya saya.
Suster Vina tertawa kecil lalu minta maaf. Lalu kembali saya teruskan jilatan saya.
Lama sekali permainannya, sampai tiba-tiba Suster Vita mengerang besar dan panjang serta mengejang. Setelah Suster Vita selesai, dia mencabut batang kejantanan saya, sedang lidah saya tetap menghajar liang kenikmatan Suster Vina. Sesekali saya menjilati klit-nya. Dia menggelinjang setiap kali lidah saya menyentuh klit-nya. Mendengar desisan Suster Vina sudah lemas dan beranjak turun dari posisinya, saya menyudahi permainan ini. Saya lunglai rasanya menghabisi dua suster sekaligus.
“Kasihan Mas Sony, nanti sembuhnya jadi lama… soalnya ngga sempet istirahat..!” kata Suster Vina.
“Iya dan kayanya kita akan setiap malam rajin minta giliran kaya malem ini.” sahut suster Vita.
“Kalo itu dibuat system arisan saja.” kata Suster Vina sadis sekali kedengarannya.
“Emangnya gue piala bergilir apa..?” kata saya dalam hati.
Malam itu saya tidur lelap sekali dan saya sempat minta Suster Vina menemaniku tidur, saya berjanji tiap malam, mereka dapat giliran menemani saya tidur, tetapi setelah mendapat jatah batin tentunya. Malam itu kami tidur berdekapan mesra sekali seperti pengantin baru dan sama-sama polos. Sampai jam 4 pagi, dia minta jatah tambahan dan kami pun bermain one on one (satu lawan satu, tidak keroyokan seperti semalam). Hot sekali dia pagi itu, karena kami lebih bebas tetapi yang kacau adalah setelah selesai. Saya merasa sakit karena luka kaki saya menjadi berdarah lagi. Jadi terpaksa ketahuan dech sama Suster Vita kalau ada sesi tambahan, dan mereka berdua pun ramai-ramai mengobati luka saya, sambil masih ingin melihat kejantanan dasyat yang meluluh lantakkan tubuh mereka semalaman.
Setelah itu, sekitar jam 5:00, saya kembali tidur sampai pagi jam 7:20. Saya dibangunkan untuk mandi pagi. Mandi pagi dibantu oleh Suster Vita dan sempat dihisap sampai keluar dalam mulutnya.
Pada pagi harinya, Dokter Vivi melihat keadaan saya.
“Gimana Mas Sony, masih sakit kakinya..?” katanya.
“Sudah lumayan Dok..!” kata saya.
Lalu, “Sekarang coba kamu tarik nafas lalu hembuskan, begitu berulang-ulang ya..!”
Dengan stetoskopnya, Dokter Vivi memeriksa tubuh saya. Saat stetoskopnya yang dingin itu menyentuh dada saya, seketika itu juga suatu aliran aneh menjalar di tubuh saya. Tanpa saya sadari, saya rasakan batang kejantanan saya mulai menegang. Saya menjadi gugup, takut kalau Dokter Vivi tahu. Tapi untung dia tidak memperhatikan gerakan di balik selimut saya. Namun setiap sentuhan stetoskopnya, apalagi setelah tangannya menekan-nekan ulu hati, semakin membuat batang kejantanan saya bertambah tegak lagi, sehingga cukup menonjol di balik selimut.
“Wah, kenapa kamu ini..? Kok itu kamu berdiri..? Terangsang saya ya..?” katanya.
Mati deh! Ternyata Dokter Vivi mengetahui apa yang terjadi diselangkangan saya. Aduh!
Lalu dia dengan tiba-tiba membuka selimut sambil berkata, “Sekarang saya mau periksa kaki mas…” katanya.
Dan, “Opsss… i did it again..!” terpampanglah kemaluan saya yang besar dihadapannya.
Gila! Dokter Vivi tertawa melihat batang kejantanan saya yang besar dan mengeras itu.
“Uh, kontol mas besar ya..?” kata Dokter Vivi serasa mengelus kemaluan saya dengan tangannya yang halus.
Wajah saya menjadi bersemu merah dibuatnya, sementara tanpa dapat dicegah lagi, senjata saya semakin bertambah tegak tersentuh tangan Dokter Vivi. Dokter Vivi masih mengelus-elus dan mengusap-usap batang kejantanan saya itu dari pangkal hingga ujung, juga meremas-remas biji kembar saya.
“Mmm… mas pernah bermain..?” katanya manja.
Saya menggeleng. Saya pura-pura agar ya…ya…ya….
“Aahhh…” saya mendesah ketika mulut Dokter Vivi mulai mengulum kemaluan saya.
Lalu dengan lidahnya yang kelihatannya sudah mahir, digelitiknya ujung kemaluan saya itu, membuat saya menggerinjal-gerinjal. Seluruh kemaluan saya sudah hampir masuk ke dalam mulut Dokter Vivi yang cantik itu. Dengan bertubi-tubi disedot-sedotnya kemaluan saya. Terasa geli dan nikmat sekali.
Dokter Vivi segera melanjutkan permainannya. Ia memasukkan dan mengeluarkan kejantanan saya dari dalam mulutnya berulang-ulang, naik-turun. Gesekan-gesekan antara kemaluan saya dengan dinding mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagi saya.
“Auuh… aahhh…” akhirnya saya sudah tidak tahan lagi.
Batang kemaluan saya menyemprotkan sperma kental berwarna putih ke dalam mulut Dokter Vivi. Bagai kehausan, Dokter Vivi meneguk semua cairan kental tersebut sampai habis.
“Duh, masa baru begitu saja mas udah keluar.” Dokter Vivi meledek saya yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.
“Dok.., saya… baru pertama kali… melakukan ini…” jawab saya terengah-engah (kena dia, tetapi memang saya akui hisapannya lebih hebat dari kedua suster tadi malam). Dokter Vivi tidak menjawab. Ia mencopot jas dokternya dan menyampirkannya di gantungan baju di dekat pintu. Kemudian ia menanggalkan kaos oblong yang dikenakannya, juga celana jeans-nya. Mata saya melotot memandangi payudara montoknya yang tampaknya seperti sudah tidak sabar ingin meloncat keluar dari balik BH-nya yang halus. Mata saya serasa mau meloncat keluar sewaktu Dokter Vivi mencopot BH-nya dan memelorotkan CD-nya. Astaga! Sungguh besar namun terpelihara dan kencang. Tidak ada tanda-tanda kendor atau lipatan-lipatan lemak di tubuhnya. Demikian pula pantatnya. Masih menggumpal bulat yang montok dan kenyal. Benar-benar tubuh paling sempurna yang pernah saya lihat selama hidup ini. Saya merasakan batang kejantanan saya mulai bangkit lebih tinggi menyaksikan pemandangan yang teramat indah ini.
Dokter Vivi kembali menghampiri saya. Ia menyodorkan payudaranya yang menggantung kenyal ke wajah saya. Tanpa mau membuang waktu, saya langsung menerima pemberiannya. Mulut saya langsung menyergap payudara nan indah ini. Sambil menyedot-nyedot puting susunya yang amat tinggi itu, mengingatkan saya ketika menyusu pada kedua suster tadi malam.
“Uuuhhh… Aaah…” Dokter Vivi mendesah-desah tatkala lidah saya menjilat-jilati ujung puting susunya yang begitu tinggi menantang.
Saya permainkan puting susu yang memang amat menggiurkan ini dengan bebasnya. Sekali-sekali saya gigit puting susunya itu. Tidak cukup keras memang, namun cukup membuat Dokter Vivi menggelinjang sambil meringis-ringis.
Tidak lama kemudian, saya menarik tangan Dokter Vivi agar ikut naik ke atas tempat tidur. Dokter Vivi memahami apa maksud saya. Ia langsung naik ke atas tubuh saya yang terbaring telentang di tempat tidur. Perlahan-lahan dengan tubuh sedikit menunduk, ia mengarahkan kemaluan saya ke lubang kewanitaannya yang di sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu lebat kehitaman. Lalu dengan cukup keras, setelah batang kejantanan saya sudah masuk 2 cm ke dalam liang senggamanya, ia menurunkan pantatnya, membuat senjata saya hampir tertelan seluruhnya di dalam lubang surganya. Saya melenguh keras dan menggerinjal-gerinjal cukup kencang waktu ujung kepala kemaluan saya menyentuh pangkal rahim Dokter Vivi. Menyadari bahwa saya mulai terangsang, Dokter Vivi menambah kualitas permainannya. Ia menggerak-gerakkan pantatnya, berputar-putar ke kiri ke kanan dan naik turun ke atas ke bawah. Begitu seterusnya berulang-ulang dengan tempo yang semakin lama semakin tinggi. Membuat tubuh saya menjadi meregang merasakan nikmat yang bukan main.
Saya merasa sudah hampir tidak tahan lagi. Batang keperkasaan saya sudah nyaris menyemprotkan cairan kenikmatan lagi. Namun saya mencoba menahannya sekuat tenaga dan mencoba mengimbangi permainan Dokter Vivi yang liar itu.
Akhirnya, “Aaahh…” jerit saya.
“Ouuhhh..!” desah Dokter Vivi.
Dokter Vivi dan saya menjerit keras. Kami berdua mencapai klimaks hampir bersamaan. Saya menyemprotkan air mani saya di dalam liang rahim Dokter Vivi yang masih berdenyut-denyut menjepit keperkasaan saya yang masih kelihatan tegang itu.
Lalu, wajah, mata, dahi, hidung saya habis diciumi oleh Dokter Vivi sambil berkata, “Terima kasih Mas Sony, ohhh… endanggg..!”
Kami tidak lama kemudian tertidur dalam posisi yang sama, yaitu kakinya melingkar di pinggang saya sambil memeluk tubuh saya dengan hangat. Nah itulah cerita saya.

Posted by : Natassya Wang

Tuesday, July 17, 2018

Cerita Dewasa Memuaskan Istri Orang

Cerita Dewasa Memuaskan Istri Orang



Diary Seks 18 - Saya ingin menceritakan kehidupan di masa lalu saya ketika baru tumbuh menjadi anak laki-laki. Saya hanya mampu mengingat kehidupan saya secara lebih lengkap sejak saya berumur 15 tahun.
Dalam usia itu saya baru kelas 2 SMP di sebuah desa yang berada di pelosok, jauh dari keramaian dan kehidupan modern. Rumah saya hanya terbuat dari dinding anyaman bambu, lantai tanah dan letaknya terpencil di luar kampung.

Kami keluarga miskin, mungkin jika menurut ukuran pemerintah adalah keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Aku tinggal bersama emakku yang aku panggil simbok dan nenekku yang aku panggil mbah. Kami memang hanya bertiga. Mbok cerai dari Bapak sejak aku lulus SD. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tetapi yang kurasa, Bapak pergi meninggalkan rumah dan sampai sekarang tidak tahu keadaannya. Mbah menjanda sudah sekitar 5 tahun karena kakek meninggal.

Aku ingat Mbah kakung (kakek) meninggal waktu aku masih SD. Jadi hanya aku lah laki-laki dirumah itu, yang harus mengerjakan semua pekerjaan laki-laki. Sementara mbok mencari nafkah dengan memburuh tani bersama mbah. Keduanya masih energik.

Ketika umurku 15 tahun mbok masih umur 29 tahun dan mbah 42 tahun. Umur segitu kalau di kota besar masih tergolong belum tua, tapi di kampung sudah termasuk uzur. Namun kedua mereka dikaruniai badan yang langsing dan menurut istilah Jawa, singset. Mbokku mewarisi ibunya berbadan langsing. Meski kedua mereka sudah memasuki usia tua menurut ukuran kampung, tetapi tubuh bereka tidak bergelambir lemak, alias singset.

Wajah mereka biasa-biasa saja tidak terlalu cantik, tetapi juga tidak jelek. Biasa saja lah orang kampung, Cuma wajahnya bersih dari noda bekas jerawat. Sepengetahuanku mereka tidak terlalu repot menjaga tubuh dan wajah, karena makan hanya seadanya dan mandi juga biasa tidak pernah dilulur dan sebagainya.

Baik mak maupun mbah, tumit kakinya kecil dan betisnya langsing. Ini menjadi perhatianku setelah aku dewasa dan mengenal ciri-ciri wanita yang pandai memuaskan suami.
Agak melenceng sedikit. Kebiasaan di desa kami adalah setiap rumah mempunyai kamar mandi yang disebut sumur berada di luar rumah dan umumnya agak jauh di belakang rumah. Tidak jauh dari sumur terdapat tempat buang hajat besar. Sumur dan wc nayris tidak berdinding penghalang. Yang ada hanya bangunan lubang sumur yang bibirnya ditinggikan sekitar 1 meter, lalu tonggak-tonggak kayu untuk menggantung baju dan handuk.

Di sekitar sumur dan wc ditumbuhi oleh tanaman rumpun sereh dan tanaman semak yang rimbun sehingga agak terlindung. Aku sebagai laki-laki selalu bertugas menimba dan mengisi air ke ember-ember untuk mandi, cuci piring dan cuci baju. Ritual mandi biasanya dilakukan pada pagi hari ketika mata hari mulai agak terang sekitar pukul 5 pagi.

Sudah sejak kecil aku terbiasa mandi bersama orang tuaku. Tidak ada rasa malu, sehingga kalau kami mandi tidak memakai basahan, atau sarung. Kami mandi telanjang bulat. Mungkin bedanya kalau orang kota mandinya berdiri di bawah shower atau bergayung ria atau tiduran di bath tub. Kalau kami orang desa mandi biasanya jongkok. Hanya beberapa saat saja berdiri untuk mebilas semua tubuh setelah bersabun.

Di usiaku 15 aku baru mulai tertarik dengan bentuk badan lawan jenis. Yang bisa aku lihat hanya simbok dan mbah saja. Mbok badannya langsing dan kulitnya kencang, payudaranya tidak besar, kakinya juga langsing. Di usianya yang hampir memasuki kawasan 30, teteknya masih kencang membusung. Mungkin karena ukurannya tidak besar jadi buah dadanya tidak mengelendot turun. Jembutnya cukup lebat, rambutnya sebahu yang selalu diikat dan digelung.

Simbah badannya tidak jauh dari mbok, dan tingginya juga sama sekitar 155 cm, Cuma teteknya sedikit agak turun, tapi masih kelihatan indah. Jembutnya juga tebal. Badannya meski kelihatan lembut, tetapi perkasa karena mungkin pengaruh warna kulit yang tergolong sawo matang. Tetek mbah kayaknya sedikit lebih besar dari simbok. Perut Mbah agak banyak tertutup lemak, sehingga tidak serata perut mbok.

Aku kenal betul seluk-beluk kedua body mereka karena setiap hari pagi dan sore kami selalu mandi bersama, telanjang bersama dalam waktu yang cukup lama. Jika pagi hari selain mandi mbok dan simbah mencuci pakaian dan peralatan makan semalam. Berhubung tugasku menimba air maka aku tetap berada di posku sampai seluruh pekerjaan mereka selesai. Jika sore mandinya lebih cepat karena acara selingan hanya cuci piring.

Mohon pembaca jangan protes dulu, karena sekolah kami di desa memundurkan waktu masuk menjadi jam 8 dengan pertimbangan murid-murid umumnya memerlukan waktu untuk membantu pekerjaan rumah tangga di pagi hari dan memberi kesempatan kepada murid yang tinggalnya sekitar sejam jalan kaki dari sekolah.

Seingatku sejak aku sunat di umur 12 tahun, atau selepas lulus SD sering kali aku malu karena penisku sering berdiri kalau pagi-pagi ketika mandi bersama. Sebetulnya penis berdiri sejak aku bangun pagi, sampai mandi dia tidak surut-surut. Mbok sih cuek-cuek aja, tetapi si mbah sering mengolok-olok, bahkan kadang-kadang menampar pelan penisku dengan menyuruh “tidur”.
Mulanya aku tidak malu, tapi sejalan bertambah umurku, penisku makin besar dan di sekitarnya mulai ditumbuhi bulu. Anehnya si mbah yang selalu memberi perhatian lalu mgomong ke simbok. Mbok ku lalu menimpali, “ cucumu sudah mulai gede mbah,” katanya.

Aku sulit mengendalikan penisku, kalau sudah berdiri, dia sulit di layukan, meski aku sirami air dingin. Yang bikin makin menegangkan, si mbah kadang-kadang memegang-megang penisku seolah-olah mengukur perkembangannnya, Si mbok juga disuruh Mbah merasakan perkembangan penisku. Meskipun kedua mereka adalah orang tua ku kandung, tetapi namanya dipegang tangan perempuan, naluri kelaki-lakianku bangkit. Penisku jadi makin mengeras.

Kadang-kadang aku berusaha menghindar karena malu, tetapi selalu dicegah oleh mbah dan menyuruh aku diam saja. Dibandingkan emak ku, mbah lebih agresif. Di usia 15 tahun aku sudah memiliki tubuh seperti pria dewasa. Tinggiku lebih dari 165 cm dan penisku sudah kelihatan gemuk dan keras serta agak panjang sekitar 15 cm.

Sebenarnya dengan aku sebesar itu sudah tidak pantas bersama emak dan mbahku mandi telanjang bersama. Tapi karena sudah terbiasa sejak kecil, aku tetap saja dianggap masih anak-anak.
Entah pantas disebut bagaimana, sialnya atau untungnya, embahku makin suka mempermainkan penisku. Kadang-kadang tangannya dilumuri sabun lalu dikocoknya penisku agak lama lalu dilanjutkan dengan menyabuniku. Emak juga kadang-kadang ikut-ikutan embah, meski penisku sudah berlumuran sabun, dia ikut mengocok dan merabai kantong semarku. Rasanya birahiku terpacu dan rasanya nikmat sekali. Makanya aksi mereka itu aku biarkan. Bahkan jika mandi tanpa ritual itu, aku yang selalu memintanya.

Tapi seingatku meski dikocok-kocok agak lama kok aku waktu itu tidak ejakulasi. Aku sendiri belum mengetahui cara melakukan onani, maklum anak desa, yang akses informasi ke dunia luar masih sangat terbatas.

Entah gimana awalnya tetapi setelah seringnya aku dikocok-kocok kami jadi sering mandi saling menyabuni, aku menyabuni seluruh tubuh mak ku dan mbahku. Dalam mengusap sabun tentu saja aku leluasa menjamah seluruh tubuh mereka. Aku senang mencengkram tetek dan memelintir pentil susu. Juga senang mengusap-usap jembut dan menjepitkan jari tengahku ke sela-sela memek. Mungkin itu naluri yang menuntun semua gerakan. Sumpah, aku tidak tahu harus bagaimana memperlakukan perempuan pada waktu itu.

Namun kesannya mereka berdua senang, bahkan badan mereka sering dirapatkan dan memelukku, sehingga penisku yang menjulang tegang kedepan selalu menerjang bagian pantat atau bagian atas memek. Mbah kadang-kadang menundukkan penisku agar masuk ke sela-sela pahanya sambil memelukku erat. Posisi itu paling aku suka sehingga kepada makku juga aku lakukan begitu. Mereka kelihatan tidak keberatan alias oke-oke saja. Saya pun tidak tahu pada waktu itu bahwa berhubungan badan itu memasukkan penis ke dalam lubang memek.

Aku sering dipuji mbah dan itu dikatakan kepada mak ku. “ anak mu ini hebat lho nduk (panggilan anak perempuan jawa), kayaknya dia kuat.”

Terus terang aku tidak mengerti yang dimaksud kuat. Kala itu kupikir yang dimaksud kuat adalah kemampuanku menimba air, membelah kayu bakar dan mengangkat beban-beban berat.
Mbah ku dan makku tidak kawin lagi setelah mereka berpisah dengan suaminya. Aku tidak pernah menanyakan alasannya, karena aku rasa lebih nyaman hidup bertiga gini dari pada harus menerima kehadiran orang luar. Padahal yang naksir mbah, apalagi emakku lumayan.

Suatu hari kemudian aku dipanggil emakku setelah mereka berdua berbicara berbisik-bisik di kamar Aku waktu itu sedang asyik meraut bambu untuk membuat layangan di teras rumah. Emakku duduk di sampingku.
“Le (Tole istilah panggilan anak laki-laki Jawa), kamu nanti malam tidur dikamar bersama mbah dan simbok.” kata mak.
“Ah gak mau , kan tempat tidurnya sempit, kalau tidur bertiga,” kataku.

Tempat tidur mereka sebenarnya hanya dua kasur kapuk yang dihampar diatas plastic dan tikar di lantai. Masih ada ruang untuk menggelar tikar tambahan di sisi kiri atau kanannya. Sehingga jika ditambah satu bantal, bisalah untuk tidur bertiga, dengan catatan seorang diantaranya tidur di tikar.
Selama ini aku tidur di balai-balai bambu di ruang tengah. Di desaku disebut amben bambu. Tidak ada masalah tidur di amben meski tanpa kasur. Aku tidur hanya beralas tikar dan ditemani bantal kumal serta sarung.

Aku bertanya-tanya, tetapi tidak dijawab mak atau mbah, kenapa malam itu aku harus tidur seranjang dengan mereka. “Udahlah turuti saja, jadi anak yang penurut, jangan suka terlalu banyak tanya,” nasihat mbahku.
Saking polosnya aku, yang terbayang dalam benakku adalah nanti malam aku bakal tidur bersempit-sempitan dan bersenggolan. Aku paling tidak senang jika tidur bersinggungan dengan orang lain. Tidak terlintas sedikitpun pikiran yang negatif.

Biasanya aku tidur jam 10 malam, tapi malam itu jam 8 malam aku sudah diseret masuk ke kamar mereka. Aku tidur di kasur bersama mbah, disebelah yang lain mbok ku tidur ditikar.
Mulanya hanya tidur telentang, Tidak lama lama kemudian mbah tidur memelukku. Terus terang aku merasa risih dipeluk. Tapi mau protes tidak berani, jadi diam saja. Mbah mengusap-usap wajahku, lalu dadaku. Aku mengenakan kaos usang yang di beberapa tempat sudah ada yang sobek. Entah berapa lama diusap-usap, aku menunggu dengan persasaan tegang. Aku tidak tahu kemana tujuan mereka mengajakku tidur bareng dan sekarang mbah tidur memelukku dan mengusap-usap dadaku. Sejujurnya aku sangat risih, tetapi apa daya tidak berani protes. Jika diberi peluang aku akan memilih kembali tidur di luar di amben.

Tangan kanan mbah yang tadi mengusap dadaku mulai merambat ke bawah ke arah sarungku. Aku terbiasa tidur sarungan dan di dalamnya tidak pakai celana, karena selain untuk menghemat pemakaian celana juga rasanya lebih enak leluasa. Terpeganglah gundukan kemaluanku dri luar sarung. Tangan mbahku meremas-remas, mengakibatkan aku tegang. Bukan hanya penis yang menegang, tetapi perasaanku juga tegang, karena khawatir terhadap kejadian apa yang bakal terjadi selanjutnya. Aku diam saja, selain berdebar-debar, penisku jadi mengembang di remas-remas mbah.
Ditariknya sarung keatas sehingga terbukalah bagian kemaluanku. Kamar tidur rumah kami hanya bepenerangan lampu minyak yang sejak tadi sudah di kecilkan. Jadi pemandanganku hanya remang-remang.

Diraihnya kemaluanku lalu digenggamnya penisku yang sudah mengeras sempurna. Nikmatnya luar biasa , tapi juga aku merasa takut, sehingga debaran jantungku makin keras. Penisku di kocok-kocok, sampai akhirnya aku terbuai dan rasa takutku sudah terlupakan. Tanpa sadar aku melenguh nikmat.
Entah kapan si mbah membuka bagian depan bajunya sehingga ketika kepalaku ditarik ke dadanya wajahku merasakan kelembutan payudaranya. Mulutku diarahkan ke puting susunya dan aku diperintah menjilati dan mengemut susunya. Perintah itu aku turuti dan naluriku juga menuntunnya. Sedap nian rasanya mengemut dan menjilati puting susu yang mengeras.

Meski tidak ada rasa, tetapi memainkan puting susu lebih nikmat rasanya dari pada mengunyah marshmallow. Setelah bergantian kiri dan kanan aku diminta nenek menaiki tubuhnya. Sarungku sudah dilepasnya sehingga bagian bawahku sudah telanjang. Aku turuti saja perintah si mbah. Aku merasakan bagian bawah mbah juga sudah terbuka. Aku berasa gesekan jembut lebatnya menggerus perutku. Sambil aku menindih mbah penisku dipegang mbah dan diarahkan ke lubang vaginanya. Aku diminta mengangkat badanku sedikit dan ketika ujung peler sudah di depan lubang aku diminta menurunkan badanku pelan-pelan.

Tidak pernah terbayangkan dan terpikirkan kenikmatan dan sensasi ini. Jiwaku terasa melayang di awang-awang. Aku tidak ingat dan peduli siapa yang ada di bawah tubuhku. Yang kurasakan adalah seorang wanita menggairahkan. Sensasi masuknya penisku perlahan-lahan ke vagina mbah terasa sangat nikmat. Terasa vaginanya licin tapi juga tidak mudah memasukkan penisku. Setelah seluruh batang penisku tengggelam dilahap memek mbah terasa hangatnya lubang vagina mbah. Kami berdiam sebentar dan aku mematung merasakan sensasi kenikmatan luar biasa yang belum pernah akur rasakan selama hidupku.

Sesaat kemudian mbah agak mendorong tubuhku dan menariknya kembali. Mbah mengendalikan gerakanku dengan memegangi melalui kedua tangannya di bongkahan pantatku. Aku tidak menyangka kenikmatan luar biasa ini. Embah terdengar mendesis dan terkadan mengerang. Aku makin cepat melakukan gerakan seiring dengan makin nikmatnya rasa yang menjalari mulai dari kemaluanku sampai ke seluruh tubuh.

Seingatku aku tidak terlalu lama bergerak begitu, karena selanjutnya ada gelombang nikmat yang mendera tubuhku dan berujung pada kontraksi di penis dan seluruh otot di bawah. Aku merasa mengeluarkan sesuatu dari lubang kencing. Tanpa diberi komando selama proses pelepasan itu aku membenamkan dalam-dalam penisku ke dalam memek mbah.

Terasa lega dan plong setelah semua spermaku tumpah. Mbah mendorong tubuhku untuk berbaring di sebelahnya dan seluruh sendi tubuhku terasa lemas. Mbah bangkit dan mengambil lap yang lembab membersihkan seluruh kemaluanku yang penuh berselemak cairan sperma dan cairan dari vagina mbah.

Penisku layu perlahan-lahan sampai selesai proses pembersihan itu. Mbah kulihat juga membersihkan memeknya dengan lap lain. Setelah kami berdua bersih, mbah beralih pindah ke tikar sementara mak tidur di sebelahku.
Dia seperti mbah tadi tidur memelukku dan tangannya meremas-remas penisku yang loyo. Remasan mak membuat penisku berkembang per lahan-lahan sampai akhirnya tegang mengeras kembali. Tetapi rasanya tidak sensitif tadi.

Mengetahui penisku sudah menegang sempurna, mak menyuruhku menindih tubuhnya seperti mbah tadi . Tangannya menuntun penisku untuk memasuki lubang memeknya. Aku sudah paham dan aku segera menekan batang penisku ketika terasa penisku sudah mulai memasuki lubang hangat. “pelan-pelan, sakit,” kata emak.
Aku turuti perintahnya dan pelan-pelan kutekan penisku memasuki lubang memeknya yang juga terasa hangat dan menjepit. Setelah semua masuk aku mulai menggenjot. Nikmat luar biasa dan aku lupa pada keadaan sekeliling. Perhatianku hanya tertuju pada kenikmatan yang sekarang sedang menjalar ke seluruh tubuhku.

Aku terus menggenjot makku sampai dia berteriak-teriak seperti orang kesakitan. Tapi ketika aku tanya dia mengkomandoiku agar jangan berhenti dan terus menggenjot. Mak ku sudah seperti orang hilang ingatan. Badannya kelojotan dan bergerak tidak karuan sampai beberapa kali penisku lepas dari memeknya. Dia buru-buru meraih penisku untuk dimaskukkan kembali ke lubang memek. Tiba tiba dia berteriak “ aaaaaah aaaah aduhhh aaaaah aduh. “ kedua tangannya menarik pantatku agar semua batang penisku tenggelam. Aku turuti kemauannya dan penisku merasa seperti berkali-kali dicengkeram oleh memeknya. Aku berdiam sampai agak lama, sampai tidak ada lagi kurasakan kedutan di lubang memeknya.

Sepertinya mak ku sudah siuman. Dia kutanya dengan penuh keheranan, apakah kesakitan. Dia menggelengkan kepala sambil tersenyum ditariknya wajahku ke wajahnya dan diciuminya seluruh wajahku. Penisku masih tertancap dalam memeknya. Naluriku mendorong aku melakukan kembali gerakan naik turun seperti tadi. Mak kembali mendesah-desah dan menjerit kecil. Aku pun makin semangat memompa dan birahiku makin terangsang mendengar erangan itu. Sepertinya aku akan kembali merasakan sperma akan keluar , gerakanku makin kupercepat dan mak makin keras mengerang, sampai kuingat mbahku mengusap-usap rambut emakku. Aku tidak perduli apapun kecuali segera mencapai puncak kenikmatan.

Ketika puncak kenikmatan muncul kubenamkan dalam-dalam penisku ke dalam memek mak dan ku tembakkan spermaku berkali-kali. Mak ku menarik tubuhku rapat rapat dan kurasakan penisku dijepit-jepit. Luar biasa sensasi kenikmatan yang kurasakan.
Aku berdiam sebentar sampai akhirnya penisku keluar dengan sendirinya dari lubang memek karena menyusut. Aku tergolek di samping emakku dan rasa lemas dan ngantuk yang luar biasa. Kulihat makku sudah tertidur dan mendengkur halus. Mbah melakukan tugasnya membasuh penisku dan memek mak ku. Selanjutnya aku tidak ingat lagi.

Aku terbangun karena desakan ingin kencing. Di sisi dapur rumah kami memang ada semacam wc kecil khusus untuk buang air kecil. Penisku menegang menahan desakan ingin kencing, tetapi setelah air seni dilepas, penisku masih tetap gemuk. Dia makin keras ketika aku mengingat kejadian yang baru aku alami.

Ketika aku masuk aku melihat mak dan nenekku tidur tanpa penutup di bagian bawah. Makku sudah terkapar, tetapi nenek ku masih manyapaku untuk tidur di sebelahnya. Aku turuti dan aku langsung tidur memeluk nenekku, tanganku langsung meremas kedua bongkahan payudara nenek yang terasa masih kenyal. Puting susunya aku pelintir-pelintir dan kadang-kadang aku usap. Nenek merintih – rintih aku perlakukan begitu. Dia kemudian memintaku untuk menindihnya lagi. Aku sudah semakin paham dan kuarahkan penisku ke lubang di bagian bawah badannya. Pelan-pelan aku tekan sehingga melesak lah seluruh penisku ke dalam memeknya.

Awalnya aku menggenjot perlahan-lahan, tetapi seiring dengan erangan nenek aku jadi makin bersemangat menggenjot lebih cepat. Nenek sama seperti mbok ku, dia menjerit jerit nikmat dan kemudian kedua kakinya merangkul pinggangku erat sekali sampai aku tidak bisa bergerak. Kurasakan memeknya berkedut-kedut. Aku tidak bergerak sampai nenek melonggarkan kuncian kakinya. Aku kembali mengenjot nenek dengan gerakan lamabat dan cepat. Tidak lama kemudian nenek kembali mengunci tubuhku dan aku kembali merasakan penisku dijepit-jepit oleh memek mbah. Seingatku pada waktu itu mbah berkali-kali begitu sampai akhirnya dia memintaku berjenti, karena katanya dia sudah tidak kuat dan badannya lemas.

Aku masih penasaran karena belum mencapai puncak, Kulihat emakku tergeletak mengangkang. Aku beralih menindih mak. Dia terbangun hanya dengan membuka matanya. Sementara itu penisku sudah masuk kedalam memeknya. Aku tidak perduli apakah makku sudah bangun atau masih setengah tidur. Aku terus menggenjot sampai kemudian mak juga merintih-rintih. Mak tak lama kemudian juga mengunci tubuhku dengan lilitan kedua kakinya sehingga aku tidak bisa bergerak. Padahal aku merasa sudah hampir mencapai puncak kenikmatan. Terasa memek makku menjepit ketat sekali berkali-kali. Ketika kuncian kakinya agak longgar aku memaksa menggenjot lagi sampai menjelang aku puncak makku kembali melilitkan kakinya dan aku dengan paksa masih menggenjot meski gerakkannya pendek. Tapi itu sudah bisa menghantar puncak knikmatanku. Aku mengejang-ngejang menyemprotkan mani ke dalam memek mak dan mak mengunci tubuhku ketat sekali dan kedua tangannya juga memelukku erat sekali.

Aku tertidur sebentar dan terbangun karena terasa geli di penisku. Kulirik ke bawah ternyata mbah tengah duduk dan mempermainkan penisku. Keadaan masih gelap. Aku mungkin baru tertidur satu jam, tetapi penisku sudah berdiri lagi. Malam itu aku bermain berkali-kali sampai hari agak terang mungkin aku sudah melepas spermaku 5 kali.

Paginya kami seperti biasa mandi bersama dan saling menyabuni. Aku tidak berani bertanya banyak, karena mereka sama sekali tidak menyinggung peristiwa tadi malam. Mak ku hanya mengingatkanku agar menjaga rahasia rumah tangga. Hari itu aku tidak sekolah karena apa aku lupa, apakah karena hari minggu atau hari libur sekolah. Mak dan Mbah setelah selesai membereskan urusan rumah tangga mereka membuat masakan sederhana, lalu kami sarapan pagi. Hari itu seingatku mak dan mbah tidak ke sawah, tapi malah masuk kamar tidur-tiduran.

Aku yang merasa badanku lelah juga tertarik untuk gabung tidur dengan mereka. Kelanjutannya aku kembali ngembat mak dan mbah sampai aku keluar 3 kali. Kami sempat tidur sebentar sebelum bangun karena lapar di siang hari.

Mak dan mbah hanya mengenakan kemben sarung menyiapkan makan siang, Kami makan siang di amben tempat tidurku. Perutku terasa kenyang dan mata kembali mengantuk.
Aku memilih tidu di kasur empuk tempatnya mak dan mbah biasa tidur. Entah berapa lama aku tertidur lalu terbangun karena terasa ada yang menggelitik di kemaluanku. Ternyata mak dan mbahku memainkan penisku. Mereka berdua menimang-nimang penisku. Akhirnya sampai waktu petang aku sempat menyemprotkan dua kali spermaku.

Malamnya aku masih sempat menyemprotkan sperma setelah bergantian menindih mak dan mbahku. Selanjutnya hampir tiap malam aku harus melayani nafsu kedua orang tuaku sampai aku dewasa. Kami menyimpan rahasia itu serapat mungkin. Herannya mak dan mbahku tidak sampai hamil oleh hubungan kami. Mereka memiliki resep rahasia untuk melakukan KB.
Meskipun keluarga kami miskin. Tetapi kehidupan kami sangat bahagia. Aku meneruskan seolah sampai akhirnya bisa meraih S-1. Sejak aku kuliah aku jarang bertemu mereka, karena kau harus pindah ke kota. Tapi setiap bulan aku mengunjungi mereka dan menghabiskan waktu akhir pekan dengan melampiaskan nafsu.

Sejak aku kuliah aku sempat merasakan beberapa memek cewek yang sebaya dan lebih muda dari ku. Harus diakui bahwa memek cewek-cewek ku masih kalah nikmat dibanding memek mak dan nenekku.
Nenekku meski usianya kemudian sudah memasuki 50 tahun dan sudah menopause, tetapi kelegitan memeknya masih luar biasa. Mak ku memeknya juga legit banget. Mungkin karena tubuh kedua orang tuaku yang kencang dan tidak gemuk, maka berpengaruh pada jepitan memeknya. Selain itu jika kuperhatikan cairan memek mereka agak kental dan lengket, berbeda dengan cewek-cewek lainnya yang lebih cair dan licin.

Sejak aku kuliah aku membawa berbagai teknik baru dalam berhubungan dengan mereka seperti mengoral dan melakukan persetubuhan dengan berbagai posisi. Mulanya mak dan Nenek risih ketika kujilati memeknya, tetapi lama-lama karena nikmat mereka jadi ketagihan.

Posted by : Natassya Wang

Cerita Dewasa Burung adik Iparku yang nikmat

Cerita Dewasa Burung adik Iparku yang nikmat

Diary Seks 18 - ‘Halo’, kataku menyambut telepon.

‘Oh, kakak!!, Mbak Sari mana kak’, suara diseberang menyahut.

‘Sindi??, kapan balik ke Jakarta, mbakmu lagi piket, telepon aja ke HP-nya deh, sahutku sambil bertanya. ‘Gak usah deh kak, sampaiin aja kalo aku pertengahan juni mo balik, aku kangen banget deh’ jawabnya lagi.

‘Oke, deh ntar aku sampaikan, take care ya’ jawabku datar dan menutup telepon.

Kemudian ingatanku melayang beberapa tahun lalu, dimana saat itu dia banyak problem,.. cowok, drug, bahkan sempat pula berurusan dengan pihak berwajib karena tertangkap tangan atas kepemilikan Narkoba. Atas saranku Sindi, adik kandung Sari ke Jakarta dan sekarang telah bekerja di Singapura untuk memulai sesuatu yang baru.

Sindi 30 th, seperti juga saudaranya berwajah cantik, kulitnya bersih, mata lebar, hidung mancung, rambut berombak di ujung dengan postur tubuh proporsional. Karena obsesi untuk mandiri dan sifatnya yang keras kepala itulah dia terperosok dalam problem berkepanjangan.

Sindi sebelumnya tinggal di Surabaya, disana dia bekerja sebagai penyanyi. Dari pekerjaannya itulah (yang sebenernya tidak kami sukai) Sindi sempat ditahan polisi 1 malam karena narkoba, sebelum kami datang-dipanggil untuk memberi keterangan.

Sejak peristiwa ditahannya Sindi 3 tahun lalu, Sindi sering telepon aku dan bercerita tentang keadaannya, teman lelakinya dan biasanya cukup lama, minimal 30 menit. Sindi lebih dekat denganku dan sering ‘curhat’ daripada kakaknya. Dalam setiap pembicaraan, Sari selalu memberi tanda agar aku ‘merayu’ Sindi untuk pindah ke Jakarta dan mencari pekerjaan di sini.

Sari tau kedekatan kami itu, bahkan mendorong untuk dapat mengontrolnya melalui aku, karena sejak kecil Sindi memang susah nurut dan bandel. Awalnya aku hanya menganggapnya sebagai tanggung jawab seorang kakak terhadap adik, sebelum terjadi ‘sesuatu’ yang tidak semestinya kami lakukan.

Awal maret 2017, Sindi telepon memintaku untuk menjemputnya di stasiun Gambir, Sari sangat gembira dengan berita itu dan segera mempersiapkan kamar untuknya. 13 maret 2017 aku jemput Sindi sendiri, karena anak bungsuku sakit, dan kami duga demam berdarah. Sindi datang sendirian, padahal rencananya bersama Hendry ‘cowoknya’ yang keturunan.

‘Kok, sendirian kak??’ mana ponakan2ku, tanya Sindi saat aku sambut barang2 bawaannya.

‘Andi lagi sakit, kayanya demam berdarah deh, terpaksa diisolasi dari sodaranya’ jawabku ngeloyor menuju mobil. Sambil merokok dan berlari kecil Sindi mengikuti aku, ‘Kesian yah, aku kangen ama mereka’ katanya.

‘Kak, tau nggak knapa aku kesini?? tanyanya di mobil.

‘Yah, loe mau refreshing, loe udah sadar dan mau kerja yang sesuai ama ijazahmu, khan?’ jawabku sekenanya.

‘Yang lain donk’ komentarnya manja.

‘Apa yaa, paling putus atau mo lari dari cowokmu, hahahaha’ aku tertawa geli karena pinggangku digelitiknya.

‘Sekarang bulan apa kak?’

‘Maret’ jawabku sambil terus nyetir

‘Bulan maret ada apa ya??’ Sindi mengerling, tangannya meremas tanganku saat di persneling..

‘Sindi,.. Apaan sih’, kataku berusaha menepis tangannya yang kemudian bergerak mau gelitiki aku lagi. Tanganku ditangkapnya, digenggam kemudian dicium sambil bertanya manja

‘Kakak sayang Sindi nggak sih?’

‘Sindi.. aku kakakmu, aku sayang kamu seperti Sari menyayangimu’ kataku jengah dan menarik tangan .

‘Kak,.. aku sayang dan mengagumi Kak rizky, lebih dari itu.., aku sayang ama kakak, karena bisa ngertiin aku, pahami aku, bisa ngemanjain aku dan..tau nggak, aku bisa orgasme kalo lagi teleponan ama kakak’..katanya sambil meraih tanganku lagi.

‘Sindi.. aku gak mau ngerusak semuanya dengan perbuatan bodohmu’, jawabku marah namun sebenernya menahan gejolak. Sindi terdiam dan melepas tanganku. Itulah 30 menit pembicaraan kami di perjalanan menuju ke rumah.

Sampai di rumah Sari menyambutku dengan ciuman sambil bilang mo ke RS karna andi anak ke tiga ku panas udah lebih dari 2 hari. Aku segera ke kamar melihat keadaannya, sementara Sindi dan Sari menuju ke kamar di lantai 2 yang telah disiapkan.

‘Maa, cepetan yah’ aku beri isyarat agar Sari segera bersiap.

‘Sindi, mandi terus istirahat dulu yaa, ntar ngobrolnya deh’ kata Sari ama Sindi..OK boss sahut Sindi.

Singkatnya Andi harus segera dirawat di RS saat itu juga.

‘Andi maunya ditemenin ama mama aja yaa? pinta anakku lirih..

‘Iya sayang, mama akan temenin anak tersayang mama deh’ Sari menghibur.

‘Janji ya maa..’

Setelah Andi tidur aku rundingan ama Sari, keputusannya adalah aku akan nungguin Andi malem dan langsung berangkat kerja dari RS.

‘Paa, sekarang jemput Sindi ya.. ajak dia kesini, sekalian bawain aku beberapa pakaian, aku pengen ngobrol disini’.

‘Oke sayang’, jawabku setelah merasa semua beres.

Sesampainya di rumah, aku siapkan beberapa pakaian yang pantas, termasuk pakaian dalemSari. Aku naik ke lantai 2 (kamar Sindi) mo ambil tas, kuketuk pintu dan memanggilnya.. Tapi gak ada sahutan, aku berasa gak enak dan telepon istriku

‘Kalo gak dikunci masuk aja deh paa, soalnya semua tas ada disana’

‘Tungguin si Bengal itu bangun, biarin dulu dia istirahat ntar kalo bangunin sekitar jam 12-an.

Aku manusia biasa, seorang lelaki mana yang tidak tergoda dengan keadaan ini ; gadis cantik tertidur pulas, tanpa selimut. Sangat menggairahkan dengan rambut setengah basah tidur terlentang hanya dengan CD kecil terikat di pinggul dan sepasang bukit indah bebas tanpa penutup, ada kesempatan lagi. Aku terpaku untuk sesaat.. bathinku sedang berperang.. dan.. akhirnya aku menyerah.

Kuhampiri Sindi (yang sedang tertidur??), aku ambil selimut yang terjatuh di lantai dan menutupi tubuh indah itu, tapi Sindi sepertinya gak mau di selimuti. Gerakan tangannya menolak diselimuti. Aku kembali terdiam.., kuberanikan diri menyentuh tangannya,.. gemetar aku rasakan saat itu,..

Sindi masih terlelap bahkan mengeluarkan suara mendengkur. Nafsu sudah menguasai bathinku juga ragaku, penisku sangat2 tegang.. Sindi lebih cantik, lebih putih lebih tinggi dari Sari.. dengan jari tengahku, kutelusuri tangannya hingga ketiak..Sindi menggeliat dan menyamping seakan memberiku ruang untuk duduk di sebelahnya.

Benar-benar kesempatan telah berpihak padaku,.. kuulangi sentuhan jariku, aku belai rambutnya yang lembab dan berombak, aku cium keningnya, aku belai wajahnya sambil memanggilnya pelahan,.. “Sindi.., bangun sayang..mbakmu suruh kamu ke RS..”, (dengar atau gak aku gak peduli) kuulangi kata-kata itu sambil terus membelai.., Sindi malah melingkarkan tangannya kepinggangku.

Tanpa kusadari tanganku telah membelai kedua bukitnya, mempermainkan putingnya, sambil mengecup perlahan bibirnya. Sindi membuka matanya dan mendesah perlahan .. kakk, aku sayang kakak, aku ingin kakak sayang aku lebih dari seorang adik .. sebulan lebih aku meninggalkannya .. aku benci dia..

ternyata dia telah berkeluarga, dan sampai saat ini belum kutemukan figur yang aku cari, kak.. sayangi Sindi.. tangannya menuntun tanganku kedaerah yang paling intimnya yang telah lembab, ketika jariku sedikit menekannya.. Ditariknya tubuhku sehingga menindih tubuhnya..

Sepertinya Sindi in the mood. Dalam keadaan masih berpakaian, aku peluk Sindi dan menindihnya, kami bergerak seirama seakan sedang bersenggama.. Tiba-tiba telepon berteriak nyaring, seakan menyadarkan agar tidak berbuat lebih lanjut.

‘Pahh, udah bangun si Bengal tuh,.. Siram air aja kalo gak bisa, cepetan nih udah jam berapa sekarang? gerah nih, jangan lupa dasterku’.

OK, jawabku dengan nafas masih memburu menahan nafsu. Permainan kami terhenti dengan un happy ending..

14 maret, Di tempat kerja setelah mendapat ucapan selamat dan ciuman pipi dari rekan2 atas ulang tahunku, aku masih nggak abis pikir.. why it happen?? jahat amat aku,.. disaat usia bertambah tua, anak sedang sakit.. aku malah mengumbar nafsu.. IPARKU lagi.. Udahlah I wont do that again, biar Sindi yang nunggu Andi .. pikirku.

Jam 14.30 sepulang kerja, aku mampir ke Pizza Hut beliin makanan kesukaan Andi sebelum ke RS. Saat dikamar Sindi menyambutku dengan ciuman mesra di bibir.. met ulang tahun sayang.., Gila nih anak pikirku.. ‘Sari’, aku memanggil istriku..

Sari keluar kamar mandi, langsung memelukku, ‘Met ulang tahun pah.. hadiahnya ntar aja nunggu Andi sembuh, katanya main mata nakal. Sekitar jam 19.30 aku mo balik, pulang ganti baju. ‘Pah, ntar aja pulangnya, jam 21 an aja soalnya Andi gak mau kalo gak ditungguin mama, papa dirumah aja deh..’ biar mama yang tungguin Andi.

‘Yah..gimana nih, ntar kamu ditemenin Sindi ya, papa mo pulang urusin si rio ama intan’. ‘Tadi Sindi bilang tadi mo ktemuan ama temennya, mungkin dia mo keluar malem ini, pulang bareng ama papah aja ya, ntar kasi kunci cadangan rumah di laci lemari ya’ jawab Sari.

Gawat..tapi ada rasa senang juga terbersit di pikiranku. Malaikat bathinku menyayangkan kenapa Sari begitu percaya pada hubungan kami, sedang syaitan di jiwa-ragaku bersorak kegirangan sampai penisku berkedut.

Singkatnya kami tinggalkan Sari yang menjaga Andi. di perjalanan Sindi bilang ingin memberiku sesuatu untuk melampiaskan apa yang terpendam di sanubarinya dan membohongi kakaknya sendiri. Seperti biasa Rio dan intan udah berada di kamarnya jam 21.

(Sari sangat disiplin dalam mendidik anak). Aku periksa tas mereka nge-cek PR. Setelah mencium pipi mereka, aku turun dan mandi, (Sindi udah ke kamarnya). Jam 23 after I call Sari 2 say good night, terdengar ketukan pintu, saat kubuka Sindi menerobos masuk dengan pakaian tidur cream.

‘Kak, .. Sindi mau tidur ama kakak, pengen dipelukin dan dimanjain..

Saat itu yang pertama bereaksi adalah si Ucok di dalam sarung dan berteriak mengacung.. MERDEKA.. Dapat dibayangkan 2 orang berlainan jenis dalam 1 kamar yang dingin.. Sindi memelukku.. aku balas memeluknya erat. Sangat lama kami berpelukan.. Dalam posisi berdiri, kami berpelukan seakan berdansa.. setelah puas, aku gendong Sindi ke pembaringan.., kurebahkan dia, kutanggalkan pakaian tidurnya, Sindi hanya menggunakan G string.,..

Sindi pasrah, menikmati, badannya yang polos.. Sindi memandangku saat aku buka sarung, satu2nya penutup bagian tubuhku.. Kurebahkan diriku disamping tubuhnya, aku cium dan rasakan tiap jengkal tubuhnya, bukitnya yang putih begitu indah mencuat, kontras dengan tanganku yang hitam.. Kak.. Aku sering mimpikan ini.. kak.. puaskan aku.., sayangi aku..

Kuremas bukit indahnya sambil menciumi putingnya,.. Sindi menggelinjang hebat.. tangannya meraih penisku.. Dikocoknya perlahan.., kumasukkan tanganku, ke dalam CD G string hitam Sindi, Sindi mengangkat pinggulnya membantuku melepas satu2nya penutup tubuhnya. Lembab dan basah vagina Sindi oleh lendir hasrat, kutekan ujung jariku sedikit masuk, otomatis pinggulnya mengangkat dan berusaha agar jariku masuk lebih dalam.. beberapa lama aktifitas itu aku lakukan. Sindi pengen hisap punya kakak.. pintanya.

Aku segera berdiri dengan penis masih teracung tegak, Sindi bangkit mengulumnya.. woww hisapannya ruarr biasa, penisku seakan berada dalam genjotan vaginanya.., segera aku atur posisi 69 untuk menikmati lendir gairah yang udah disediakan, setelah beberapa menit Sindi menggelinjang sambil berteriak, ‘kak.. Sindi pengen keluar, Kak .. genjotan-nya tambah liar. Kuhentikan jilatanku dan kuposisikan penisku penetrasi ke vaginanya yang benar-benar basah.

Clepp, mudah sekali penisku menerobos masuk, aku berusaha mempertahankan very slow..kurasakan benar dinding-dinding vagina Sindi, saat kutemukan g spotnya, (sedikit dibawah permukaan dalam di bawah clitnya) kuarahkan agar tetap menyentuh area itu..

Sindi benar2 tak dapat menguasai diri akibat genjotan yang kulakukan, dijepitnya pinggangku dengan kaki dan ditahannya pada posisi yang dikekehendaki.. Kakk.. kurasakan denyutan dahsyat otot vagina Sindi, sangat kencang, lebih kencang dari denyutan Sari.., God.. i’m cumming.. teriaknya.

Saat kedutannya mengendor, kupercepat gerakanku, aku ingin menuntaskan genjotan ini.. beberapa genjotan sampai terasa telah hamper sampai, aku tarik penisku dan tumpahkan semua di luar.. Sindi agak kecewa.. namun aku tak segila itu untuk mempunyai seorang anak lagi.

Begitulah pengalamanku dengan adik iparku, Setelah Andi pulang, aku selalu berusaha mencari kesempatan untuk bersenggama dengannya dan menikmati genjotan-nya, Sindi sempat tinggal selama 6 bulan sebelum ada panggilan kerja di Singapura. END

Posted by : Natassya Wang

Monday, July 16, 2018

Cerita Dewasa Bercinta Dengan Anak SMA HOT

Cerita Dewasa Bercinta Dengan Anak SMA HOT

Diary Seks 18 - Perkenalkan dulu namaku Renni. Aku memiliki wajah yang imut dengan kulit putih mulus dan body sexy. Aku baru saja lulus SMA, cerita panas ini adalah pengalamanku sewaktu masih duduk di bangku kelas 1 SMU.

Pada saat itu pelajaran yang diberikan oleh pak guru belum terlalu banyak, karena memang kami masih dalam tahap orientasi dari murid smp menjadi murid smu. Tak terbayang olehku dapat masuk ke smu yang masih tergolong favorit di ibu kota ini. Impianku sejak dulu adalah memakai sragam putih abu-abu karena seragam ini memiliki model rok yang lebih membuatku kelihatan seksi.

Diantara teman2 baruku ada seorang cowok yang amat menarik perhatianku, sebut saja namanya Galih. Membayangkan wajahnya saja bisa membuatku terangsang. Aku sering melakukan masturbasi sambil membayangkan Galih.

Walaupun sering bermasturbasi tapi saat itu akku belum pernah bercinta atau ngentot, bahkan petting jg belum. entah setan apa yang masuk ke dalam otakku hari itu karena aku berencana untuk menyatakan cinta kpd Galih. maka saat istirahat aku memanggil Galih,

“Gal, gw gk tau gmn ngomongnya…” aku benar2 kalut saat itu ingin mundur tapi udah telat.

“Gal gw sayang ma elo, lo mau kan jd cowo gw?” aku merasa amat malu saat itu, rasanya seperti ditelanjangi di kelas (paling tidak sampai SEKARANG aku masih memakai seragam lengkap).

Galih hanya tersenyum, “nanti aja ya gw jawabnya pas pulang”.

Selama jam pelajaran pikiranku tak menentu, “gimana kalo Galih gak mau?” dalam hatiku “pasti gw jd bahan celaan!” berbagai pertanyaan terus mengalir di otakku. untungnya pelajaran belum begitu maksimal. bel pulang pun berdering, jantungku berdegup cepat. aku hanya duduk menunggu di bangkuku, aku tidak memiliki keberanian untuk menghampiri Galih dan menanyakan jawabannya.

Saat kelas sudah berangsur sepi Galih menghampiriku “bentar ya Renn, gw dipanggil bentar” katanya. aku menunggu sendirian di kelas. “jangan2 Galih ingin agar sekolah sepi dan mengajakku bercinta?” kepalaku penuh pertanyaan, hingga aku sama sekali tidak dapat berpikir sehat. dalam penantianku tiba2 ada orang datang. aku kecewa karena bukan Galih yang datang melainkan Lilik dan Fandi dari kelas I-3. mereka menghampiriku, Lilik didepanku dan Fandi disampingku.

Perlu diketahui mereka bisa dikatakan sangat jauh dari tampan. dengan kulit yang hitam dan badan yang kurus kering, aku rasa akan menyulitkan mereka untuk mendapatkan pacar di sekolah ini.

“Lagi nugguin Galih Renn?” kata Lilik.

“Koq tau?” kataku

“Tadi Galih cerita.”

Apa2an nih Galih pake cerita segala dalam hatiku.

“Loe suka ma Galih ya Renn?” tanya Lilik lagi.

Aku cuma diam saja.

“Koq diem?” kata Fandi.

“Males aja jawabnya” kataku Perasaan bt mulai menjalar tapi aku harus menahan karena pikirku Fandi dan Lilik adalah teman Galih.

“Koq lo bisa suka ma Galih sih Renn?” tanya Fandi tapi kali ini sambil merapatkan duduknya kepadaku dan menaruh tangannya di pahaku.

“Galih ganteng n gak kurang ajar kayak lo!” sambil menepis tangannya dari pahaku.

“Kurang ajar kaya gimana maksud lo?” tanya Fandi lagi sambil menaruh tangannya lagi di pahaku dan mulai mengelus2nya

“Ya kayak gini!” jawabku sambil menunjuk tangannya tapi tidak menepisnya karena aku mulai terangsang dan berpikir mungkin mereka disuruh Galih.

“Tapi enak kan?” kali ini Lilik ikut bicara. Fandi mulai mengelus2 pangkal pahaku. aku pura2 berontak padahal dalam hati aku ingin dia melanjutkannya.

“udah jangan sok berontak” kata Lilik sambil menunjukkan cengiran lebarnya. makin lama usapannya membuatku membuka lebar pahaku.

“Tadi bilang kita kurang ajar, eh skarang malah ngangkang.” “nantangin yah?” kata Lilik. dia menggeser bangku di depan mejaku dan mulai masuk ke kolong mejaku. sekarang Fandi berganti mengerjai payudaraku, tangan kirinya mengusap payudara kananku sedangkan mulutnya menciumi dan menghisap payudara kiriku sehingga seragamku basah tepat di daerah payudaranya saja.

Lilik yang berada di kolong meja menjilat2 paha sampai pangakal pahaku dan sesekali lidahnya menyentuh vaginaku yang msh terbungkus celana dalam tipisku yang berwarna putih. perbuatan mereka membuatku menggelinjang dan sesaat membuatku melupakan Galih. Fandi melepas kancing kemeja seragamku satu persatu dan kemudian melempar seragam itu entah kemana.

Merasa kurang puas ia pun melepas dan melempar braku. lidahnya menari2 di putingku membuatnya menjadi semakin membesar.

“ough Fand udah dong, gimana nanti kalo ketauan” kataku

“tenang aja guru dah pada pulang” kata Lilik dari dalam rokku.

Sedangkan Fandi terus mengerjai kedua payudaraku memilinnya, meremas, memghisap, bahkan sesekali menggigitnya. aku benar2 tak berdaya saat ini, tak berdaya karena nikmat. aku merasakan ada sesuatu yang basah mengenai vaginaku, aku rasa Lilik menjilatinya.

Aku tak dapat melihatnya karena tertutapi oleh rokku. Perlakuan mereka sungguh membuatku melayang. aku merasa kemaluanku sudah amat basah dan Lilik menarik lepas cdku dan melemparnya juga. ia menyingkap rokku dan terus mnjilati kemaluanku. tak berapa lama aku merasa badanku menegang.

Aku sadar aku akan orgasme. aku merasa amat malu karena menikmati permainan ini. aku melenguuh panjang, setengah berteriak. aku mengalami orgasme di depan 2 orang buruk rupa yang baru aku kenal. “hahahaha..” mereka tertawa berbarengan. “ternyata lo suka juga yah?” kata Fandi sambil tertawa. “jelas lah” sambung Lilik “smp dia kan dulu terkenak pecunnya” kata2 mereka membuat telingaku panas.

Kemudian mereka mengangkatku dan menelentangkanku di lantai. mreka membuka pakainnya “oh..” ini pertama kalinya aku melihat k0ntol secara langsung. biasanya aku hanya melihat di film2 porno. Lilik membuka lebar pahaku dan menaruh kakiku di atas pundaknya. pelan2 ia memasukkan k0ntolnya ke liang senggamaku.

“ough, sakit lik” teriakku

“tenang Renn, entar juga lo keenakan” kata Lilik

“ketagihan malah” sambung Fandi

Perlahan2 ia mulai menggenjotku, rasanya perih tapi nikmat. sementara Fandi meraih tanganku dan menuntunnya ke k0ntol miliknya. ia memintaku mengocoknya. Lilik memberi kode kepada Fandi, aku tidak mengerti maksudnya. Fandi mendekatkan k0ntolnya kemulutku dan memintaku mengulumnya. aku mejilatinya sesaat dan kemudian me masukkannya ke mulutku.

“isep k0ntol gw kuat2 Renn” katanya.

Aku mulai menghisap dan mengocoknya dengan mulutku. tampaknya ini membuatnya ketagihan. ia memaju mundurkan pingangnya lebih cepat. disaaat bersamaan Lilik menghujamkan k0ntolnya lebih dalam. “mmmffhh” aku ingin berteriak tapi terhalang oleh k0ntol Fandi. rupanya arti dr kode mereka ini, agar aku tak berteriak. aku sadar ke virginanku diambil mereka, oleh orang yang baru beberapa hari aku kenal.

“ternyata masih ada juga nak smp sb yang masih virgin” “vagina ce virgin emang paling enak” kata Lilik.

Dia menggenjotku semakin liar, dan tanpa sadar goyangan pingulku dan hisapanku terhadap k0ntol Fandi jg semakin cepat. tak lama aku orgasme untuk yang kedua kalinya. akupun menjadi sangat lemas tapi karena goyangan Lilik Lilik semakin liar aku pun juga tetap bergoyang dan meghisap dengan liarnya. tak lama Lilik menarik keluar k0ntolnya dan melenguh panjang disusul deerasnya semprotan maninya ke perutku. ia merasa puas dan menyingkir.

Sudah 45 menit aku menghisap k0ntol Fandi tapi ia tak kunjung orgasme jg. ia mencabut k0ntol dari mulutku, aku pikir ia akan orgasme tapi aku salah. ia telentang dan memintaku naik diatasnya. aku disetubuhi dengan gaya woman on top. aku berpegangan pada dadanya agar tidak jatuh, sedangkan Fandi leluasa meremas susuku.

Sekitar 10 menit dengan gaya ini tiba2 Lilik mendorongku dan akupun jatuh menindih Fandi. Lilik menyingkap rokku yang selama bergaya woman on top telah jatuh dan menutupi bagian bawahku. ia mulai mengorek2 lubang anusku. aku ingin berontak tapi aku tidak ingin saat ini selesai begitu saja. jadi aku biarkan ia mengerjai liang duburku.

Tak lama aku yang sudah membelakanginya segera ditindah. k0ntolnya masuk ke dalam anusku dengan ganas dan mulai mengaduk2 duburku. tubuhku betul2 tersa penuh. aku menikmati keadaan ini. sampai akhirnya ia mulai memasukkan penuh k0ntolnya ke dalam anusku. aku merasakan perih dan nikmat yang tidak karuan. jadilah aku berteriak2 sekeras2nya. aku yang kesakitan tadik membuat mereka iba tetapi malah semakin bersemangat menggenjotku.

Sekitar 15 menit mereka membuatku menjadi daging roti lapis dan akhirnya aku orgasme lagi untuk yang kesekian kalinya. kali ini aku berteriak amat keras dan kemudian jatuh lemas menindih Fandi. saat itu penjaga sekolah masuk tanpa aku sadar dan menonton aku yang sedang dikerjai 2 orang biadab ini.

Goyangan mereka semakin buas menandakan mereka akan segera orgasme. aku yang sudah lemas hanya bisa pasrah saja menerima semua perlakuan ini. tak lama mereka berdua memelukku dan melenguh panjang mereka menyemprotkan maninya di dalam kedua liangku. aku dapat merasakan cairan itu mengalir keluar karena vaginaku tidak cukup menampungnya.

Mereka mencabut kedua k0ntol mereka. aku yang lemas dan hampir pingsan langsung tersadar begitu mendengar Fandi berkata “nih giliran pak maman ngerasain iRenn” aku melihat penjaga sekolah itu telah telanjang bulat dan k0ntolnya yang lebih besar dari Fandi dan Lilik dengan gagahnya mengangkangiku seakan menginginkan lubang untuk dimasuki.

Dia menuntun k0ntolnya kemulutku untuk kuhisap. aku kewalahan karena ukurannya yang sangat besar. melihat aku kewalahan tampaknya ia berbaik hati mencabutnya. tetapi sekarang ia malah membuatku menungging. ia mengorek2 kemaluanku yang sudah basah sehingga makin lama akupun mengangkat pantatku. aku sungguh takut ia menyodomiku.

Akhirnya aku bisa sedikit lega saat k0ntolnya menyentuh bibir kemaluanku. dua jarinya membuka vaginaku sedangkan k0ntolnya terus mencoba memasukinya. entah apa yang aku pikirkan, aku menuntun k0ntolnya masuk ke vaginaku. ia pun mulai menggoyangnya perlahan. aku secara tak sadar mengikuti irama dari goyangannya. rokku yag tersinggkap dibuka kancingnya dan dinaikkannya sehingga ia melepas rok abu2ku melalui kepalaku.

Saat ini aku telah telanjang bulat. tangannya meremas payudaraku dan terus menggerayangi tubuhku. disaat2 kenikmatan aku tak sengaja menoleh dan melihat Galih duduk di pojok. dewi teman sebangkuku megoralnya yang lebih mengagetkan ia memegang handycam dan itu menagarah ke diriku. aku kesal tapi terlalu horny untuk berontak. akhirnya aku hanya menikmati persenggamaan ini sambil direkam oleh orang yang aku sukai.

Pak maman semakin ganas meremas dadaku gerakannya pun semakin cepat. tapi entah kenapa dari tadi aku selalu lebih dulu orgasme dibandingkan mereka. aku berteriak panjang dan disusul pak maman yang menjambak rambutku kemudian mencabut k0ntolnya dan menyuruhku meghisapnya. ia berteriak tak karuan. menjambakku, meremas2 dadaku sampai akhirnya ia menembakan maninya di mulutku.

Terdengar entah Lilik, Fandi, atau Galih yang berteriak telan semuanya. aku pun menelannya. mereka meninggalkanku yang telanjang di kelas sendirian. setelah mereka pergi aku menangis sambil mencari2 seragamku yang mereka lempar dan berserakan di ruang kelas.

Aku menemukan braku telah digunting tepat di bagian putingnya dan aku menemukan celana dalamku di depan kelas telah dirobek2. sehingga aku pulang tanpa celana dalam dan BH yang robek bagian putingnya. di dekat tasku ada sepucuk memo yang bertuliskan.

Posted by : Natassya Wang